WMP Indonesia Giatkan Penulisan Publikasi Ilmiah

WMP Indonesia – “Staf EDP Yogya duduk di atas harta karun data,” jelas Jajah Fachiroh, staf pengajar Departemen Histologi dan Biologi Sel Fakultas Kedokteran UGM saat menyampaikan materi workshop penulisan ilmiah kepada 25 staf WMP Indonesia di salah satu hotel di Yogyakarta, 26 April 2018. Namun ia juga menyayangkan hal tersebut menyebabkan staf EDP Yogya yang merupakan bagian dari World Mosquito Program menjadi tidak mempunyai jarak yang obyektif terhadap data-data yang telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari tersebut. “Mungkin teman-teman EDP menganggap aktivitasnya biasa-biasa saja, padahal bisa jadi itu hal yang sangat menarik bagi orang lain,” lanjut Jajah.

Ket. gambar: Jajah Fachiroh menyampaikan materi workshop penulisan ilmiah kepada 25 staf WMP Indonesia 

Lebih lanjut, staf pengajar yang telah banyak menulis publikasi ilmiah itu mengatakan bahwa WMP Indonesia yang sebelumnya dikenal sebagai EDP Yogya, merupakan satu-satunya penelitian tentang demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia yang menggunakan bakteri Wolbachia. “Jadi akan banyak orang yang menjadikannya (WMP Indonesia) sebagai rujukan,” jelas Jajah. Ia berharap banyak publikasi ilmiah dari WMP yang dihasilkan sehingga meningkatkan nilai kemanfaatannya.

Koordinator publikasi ilmiah WMP Indonesia, Warsito Tantowijoyo, mengatakan hal yang sama. “Banyak aspek penelitian yang bisa jadi tema,” jelas Warsito. Apalagi, menurutnya kesibukan di lapangan cukup berkurang selepas Desember 2017 seiring selesainya proses penitipan ember telur nyamuk ber-Wolbachia di Kota Yogyakarta. “Tahun 2018 ini seharusnya bisa jadi tahun panen publikasi ilmiah kita,” sambung Warsito. Ia berharap staf WMP Indonesia dapat lebih fokus mengolah data yang selama ini diperoleh dari berbagai studi yang dilakukan.

Penelitian WMP Indonesia bertujuan untuk mengetahui dampak pelepasan nyamuk ber-Wolbachia terhadap jumlah kasus penderita DBD di Kota Yogyakarta. Untuk memperoleh hasil tersebut, WMP Indonesia melakukan banyak studi baik di lapangan maupun di laboratorium. “Itu semua bisa dipublikasikan,” lanjut ahli serangga EDP Yogya. Beberapa topik yang akan menjadi prioritasnya antara lain survei populasi nyamuk yang terdapat di dalam sumur terbuka milik warga, uji resistensi nyamuk terhadap bahan-bahan kimia dan penggunaan media massa dalam sosialisasi di wilayah penelitian.

Selama dua hari pelatihan tersebut, seluruh staf WMP Indonesia antusias mengikutinya. “Saya jadi me-refresh kembali pengetahuan saya setelah lama tidak bersentuhan dengan dunia penulisan ilmiah,” jelas Anastasia Maya, staf Field Entomology WMP Indonesia. Demikian pula dengan rekan sejawatnya, Rizki Sholeh. Ia akan menyayangkan jika banyaknya data yang dimiliki tidak dipublikasikan. “Semoga pelatihan ini menjadi pemantik kegiatan menuliskan publikasi ilmiah dari WMP Indonesia,” harap Sholeh.


 

Baca juga: 

Ke Code Belajar tentang Sungai dan DBD

EDP Yogya hadir di Panggung Tedx Jakarta: Niyata 2017