Semua Bisa Menari, Semua Bisa Cegah Demam Berdarah

“Huwaaaaa,” teriak Laila Latifah, perawat World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta ketika mencoba menari bersama rekan sejawat, Siti Nuryanti. Suara girang keluar dari mulutnya saat sesi pemanasan latihan menari di sanggar Nalitari, di Kelurahan Panembahan Yogyakarta. Saat itu, Laila dan Siti berpegangan tangan dan saling merenggangkan tubuh ke belakang untuk merasakan beban yang dipikul rekannya. Pemanasan tersebut mengawali keseruan saat WMP Yogyakarta mengunjungi komunitas Nalitari pada Jumat (23/03) petang dalam tajuk Wolly Mubeng Jogja (WMJ), kegiatan kunjungan WMP Yogyakarta ke komunitas-komunitas yang ada di Kota Yogyakarta.

Ket. gambar: Staf WMP Yogyakarta jamming menari bersama anggota Komunitas Nalitari

“Nalitari adalah sebuah komunitas yang mengangkat isu kesetaraan melalui tarian,” buka Putri Rahardjo, salah satu pendiri Nalitari sebelum jamming menari bersama dimulai. Kesetaraan begitu terlihat dalam komunitas yang sudah dibentuk sejak 2013 ini. Putri, sapaan akarabnya, mengungkapkan setidaknya ada tiga unsur dalam kelompok Nalitari yaitu penari profesional, ibu rumah tangga dan teman-teman berkebutuhan khusus. Ia juga menyebutkan misi dari dibentuknya kelompok tari inklusi ini adalah “semua bisa menari”.

Misi tersebut yang membuat WMP Yogyakarta ingin mengenal Nalitari lebih jauh sekaligus berbincang santai tentang nyamuk Aedes aegypti yang dapat menularkan Demam Berdarah Dengue (DBD). “Di sini (Nalitari) semua bisa menari, kami juga harap semua orang bisa mencegah penyakit DBD,” ujar Sylva Haryosaputro, koordinator acara WMJ. Pria yang biasa dipanggil Yoyok ini memberikan sosialisasi tentang metode Wolbachia sebagai pengendali alami DBD.

Sembari mengekspresikan gerakan tari personal, setiap orang yang berkumpul petang itu juga mencoba melakukan harmonisasi gerakan tari berkelompok. Secara inklusif, semua anggota komunitas Nalitari dan WMP Yogyakarta berpartisipasi dan larut dalam ritme musik yang mengiringi gerakan spontan jari tangan, kaki, serta seluruh anggota tubuh. Diantara sesi menari, perbincangan santai tentang agenda komunitas dan agenda WMP Yogyakarta turut disampaikan.

Ket. gambar: Staf WMP Yogyakarta menjelaskan perihal penelitian kepada anggota Komunitas Nalitari.

“Warga yang mengalami demam dan berobat ke Puskesmas juga bisa menjadi partisipan studi Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue atau disingkat AWED,” lanjut Yoyok. Ia mengenalkan petugas yang merekrut adalah Laila, Siti dan beberapa perawat WMP Yogyakarta lainnya yang ikut menari sore itu. Ia menyarankan jika ada anggota komunitas, keluarga, atau tetangga yang terkena panas tinggi atau demam secara mendadak segera mendatangi fasilitas kesehatan, salah satunya Puskesmas.

Tak kenal usia dan status sosial, semua semakin larut dalam harmoni tarian. Setiap orang terikat satu sama lain, persis seperti nama Nalitari yang diambil dari kata Nali (ikat) dan Tari. Harmoni inilah yang diharapkan oleh WMP Yogyakarta agar semua orang dapat terlibat dalam pencegahan penyakit DBD di Indonesia.

Video kegiatan ini dapat dilihat di sini


Baca juga:

Jalan-jalan di Sekaten, Paku Alam X terpukau dengan Wolbachia

Duta Nyamuk Bertemu Duta Museum