WMP Yogyakarta Melatih Kembali Staf Puskesmas

WMP Yogyakarta -  Selama Bulan Agustus 2018, WMP Yogyakarta berkeliling ke 16 Puskesmas di Kota Yogyakarta dan Bantul. Hal tersebut dilakukan untuk menyampaikan perkembangan penelitian dan melatih kembali terkait perubahan protokol studi Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue (AWED). Studi yang telah dimulai sejak awal tahun tersebut dilakukan dengan merekrut pasien demam yang berobat di Puskesmas menjadi responden.

Sebanyak 17 Puskesmas dan Puskesmas Pembantu di Kota Yogyakarta dan 1 Puskesmas di Kab. Bantul berpartisipasi dalam studi ini. WMP Yogyakarta menempatkan perawatnya di setiap Puskesmas tersebut untuk mendata pasien demam yang bersedia menjadi responden. “Hingga akhir tahun 2018, kami menargetkan 5000 responden yang berpartisipasi,” jelas M. Ridwan Ansari, Koordinator Studi Dampak WMP Yogyakarta.

Menyikapi perkembangan yang terjadi, WMP Yogyakarta melakukan beberapa perubahan dalam Standard Operating Procedure (SOP) pelaksanaan studi. Beberapa di antara perubahan tersebut adalah melebarkan rentang usia dari 3 sampai 30 tahun menjadi 3 sampai 45 tahun. Selain itu, WMP Yogyakarta akan menawarkan penggunaan krim pereda nyeri yang dioleskan kepada partisipan untuk mengurangi rasa nyeri pada saat pengambilan sampel darah. Penggunaan krim pereda nyeri ini diberikan karena masih banyaknya responden dewasa yang menolak berpartisipasi karena takut diambil sampel darahnya. Namun sebelum diberlakukan, beberapa perubahan tersebut harus dilatihkan kembali pada semua staf yang terlibat di Puskesmas.  

   

Ket. gambar: Staf WMP Yogyakarta menyampaikan perkembangan penelitian kepada staf Puskesmas Kotagede 2.

Tak hanya memberikan pelatihan, WMP Yogyakarta juga menarik seluruh dokumen SOP dan lembar informasi yang telah dibagikan sebelumnya serta menggantinya dengan versi yang telah diperbarui. Hal tersebut guna memenuhi kaidah-kaidah dari prinsip uji klinik yang baik (good clinical practice). “Jika ada (dokumen SOP lama) yang sudah hilang, maka harus dibuatkan berita acaranya,” jelas dr. Ktut Rentyasti Palupi , Quality Control Specialist dalam studi AWED tersebut.

Perubahan SOP tersebut diharapkan dapat segera diterapkan. Hal tersebut guna memenuhi target studi yang diharapkan selesai di penghujung tahun 2019. Jika berhasil, maka WMP Yogyakarta mempunyai bukti efektivitas penyebaran nyamuk ber-Wolbachia  dalam mengurangi kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Yogyakarta.


Baca juga:

Update Kasus DBD, Puskesmas Banguntapan 3 Libatkan EDP Yogya

19 Puskesmas di Yogya dan Bantul Siap Sukseskan ‘AWED’