WMP Yogyakarta Milik Warga. 
Waidi: Penelitian ini Sudah Saya Nanti

 

Kali Code merupakan salah satu sungai yang membelah Kota Yogyakarta. Pada beberapa sudut bantarannya warga melakukan upaya untuk mewujudkannya menjadi tempat yang nyaman huni, bersih, bahkan menjadi tempat tujuan wisata. Bukan suatu pekerjaan mudah. Mengingat di tepian sungai banyak terdapat sudut yang potensial menjadi breeding site, tempat perindukan nyamuk.

Seperti yang dilakukan Waidi, 47 tahun. Ketua RT 30 RW 08 Kelurahan Karangwaru ini rutin mengajak warganya untuk kerja bhakti, gotong royong membersihkan lingkungan. Salah satu pemantiknya adalah ketika ia merasa banyak sekali nyamuk di lingkungannya. “Nyamuknya besar-besar, mas,” ungkapnya. Pria yang telah sepuluh tahun mendapat amanat memimpin RT itu khawatir akan bahaya demam berdarah. Penyakit mematikan yang bisa saja dideritanya, keluarganya atau warganya jika nyamuk-nyamuk itu dibiarkan betah tinggal di lingkungannya.

Hingga pada suatu kesempatan. Di tengah-tengah kesibukannya bekerja ia membaca tentang penelitian WMP Yogyakarta di salah satu media massa di Jogja. Awalnya ia sangsi dengan metode penelitian yang dilakukan dengan melepas nyamuk itu. “Sudah banyak nyamuk kok malah dilepasi,” kata Waidi. Namun ia kemudian teryakinkan oleh isi berita tersebut bahwa nyamuk yang dilepas merupakan nyamuk aman yang akan kawin dengan nyamuk setempat dan membuatnya menjadi tidak berbahaya. Sayang, ia harus kecewa dengan berita yang ia baca karena penelitian tersebut dilakukan di belahan lain Kota Yogyakarta. Ia hanya bisa berharap suatu saat penelitian itu dilakukan di Kelurahan Karangwaru, tempat tinggalnya.

Tak berselang lama, hal yang ia nanti pun tiba. Ia mendapat undangan untuk menghadiri pertemuan di Balai RW 08. Salah satu agenda pada pertemuan tersebut adalah sosialisasi tentang penelitian WMP Yogyakarta di Kelurahan Karangwaru. Tak hanya dirinya, seluruh warga pun setuju dengan rencana pelepasan Wolbachia melalui peletakan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di wilayahnya. Diakuinya, berita yang ia baca di media massa, sosialisasi di pertemuan warga dan pesan dalam brosur yang ditempel di beberapa tempat sudah cukup memahamkannya.

Tibalah hari penitipan. Staf WMP Yogyakarta mengunjungi rumahnya membawa beberapa ember, meski hanya satu ember yang akan dititipkan di RTnya. Merasa yakin dengan manfaat penelitian, ia lalu meminta agar staf menambah ember untuk diletakkan di sudut RTnya yang ia ketahui sebagai sarang nyamuk. “Di sana banyak nyamuknya, biar jadi nyamuk yang aman semua,” ucap Waidi sambil menunjuk sudut wilayah yang rimbun pepohonan.

Tak berhenti di situ, kepedulian Waidi ia tunjukkan dengan mengantar staf ke beberapa RT di sekitarnya. Sambil membawa bilah bambu, ia tunjukkan tempat sekaligus kulonuwun (meminta ijin) kepada pemilik rumah calon orang tua asuh nyamuk ber-Wolbachia. Bilah bambu yang ia bawa lalu ia tancapkan di sekeliling ember untuk melindunginya. “Biar tidak dibuat mainan anak-anak,” dalih Waidi. Penantiannya akan penelitian yang ia harap akan membawa manfaat ia wujudkan dengan melindungi ember yang dititipkan.

Hari-hari berikutnya ia senantiasa memantau ember yang diletakkan dekat rumahnya. Beberapa ember di RT lain yang kebetulan ia lewati saat berangkat dan pulang kerja pun tak luput dari pantauannya. Alhasil, hingga periode peletakan ember berakhir, tak satupun ember di sekitar rumahnya yang hilang.