Rumah Baru untuk Nyamuk

Bukti lain penerimaan warga terhadap penelitian WMP Yogyakarta terdapat di Kelurahan Patangpuluhan. Meski sosialisasi penelitian hanya dilakukan sampai level kelurahan, namun terbukti ketua RT yang mengikuti menyampaikannya kepada warga. Seperti yang dialami oleh Surajiono, warga RT 10 RW 02 Kelurahan Patangpuluhan. Ia menerima informasi rencana peletakan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia dari Subarno, Ketua RT-nya, saat pertemuan warga. Tak hanya Surajiono, enam calon orang tua asuh nyamuk lainnya langsung menyetujui rencana penitipan ember.

Surajiono sepakat menjadi orang tua asuh nyamuk bukan tanpa alasan. Kala itu, ia merasa di rumahnya banyak nyamuk. Telur nyamuk yang akan dititipkan di rumahnya, ia pahami sebagai nyamuk 'mandul' yang akan membuat nyamuk-nyamuk di rumahnya menjadi tidak berbahaya. Ia sadar betul tentang ancaman DBD yang bisa saja menimpanya jika nyamuk-nyamuk itu dibiarkan. Fatalitas karena DBD pernah menimpa tetangganya sekira enam tahun yang lalu. Anak kecil yang masih duduk di bangku kelas empat SD menjadi korbannya. “Anaknya nyenengke. Kasihan orang tuanya,” kenang Surajiono akan peristiwa pahit yang masih ia ingat.

Selang beberapa lama setelah pertemuan warga, staf WMP Yogyakarta mendatangi rumahnya. Kedatangan staf bertepatan dengan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan keluarganya. Rumah pria yang berprofesi sebagai pembuat kerajinan tangan yang dijual di Candi Borobudur dan Prambanan ini dinilai berhak mendapat dana bedah rumah dari pemerintah. Ketua RW setempat yang mengusulkannya, bahkan tanpa sepengetahuan Surajiono. Ia sangat bersyukur ketika mendapat tambahan material bangunan untuk memperbaiki rumahnya.

Ket. gambar: Surajiono tengah membuat suvenir yang akan ia jual.

Hal yang menarik adalah ember berisi telur nyamuk yang akan dititipkan di rumahnya pun turut ia buatkan rumah. Berbekal beberapa batang batu bata dan adonan semen, ia buatkan kotak di belakang rumahnya. “Biar tidak ngglimpang. Kalau tumpah kan jadi sia-sia,” jelas Surajiono. Berikutnya ia mempersilakan staf WMP Yogyakarta untuk tak ragu memasuki pekarangan rumahnya meski tak ada dirinya di rumah. Maklum, minimal sekali dalam sepekan ia pasti mengantar hasil kerajinan ke Candi Borobudur atau Prambanan. Bahkan terkadang ia harus tiap hari mengantar jika bertepatan dengan musim liburan.

Keberuntungan berpihak pada Kiswanto dan Tilka, staf WMP Yogyakarta yang bertugas mengganti telur nyamuk di rumah Surajiono. Mereka selalu bertemu dengan Surajiono tiap kali berkunjung. Setiap kali itu pula Surajiono mendampingi untuk sekadar melihat dan mengamati selongsong pupa yang tertinggal di dalam ember. Tak hanya itu, ia pasti langsung mencucikan ember sebelum diisi dengan telur nyamuk yang baru. Ia memanfaatkan kesempatan untuk melihat isi ember saat staf berkunjung. “Biasanya saat tidak ada staf WMP saya tidak berani buka,” ungkap Surajiono. Ia sangat antusias dengan penelitian WMP Yogyakarta. Besar harapannya, DBD tak lagi jadi ancaman ketika nyamuk ber- Wolbachia sudah tinggal di lingkungannya.


Baca juga: 

Ember ber-Wolbachia ditarik, pemantauan nyamuk terus dilakukan

Tak Hanya di Rumah Warga, EDP Yogya Menitipkan Ember di Hotel