Mau Dititipi Nyamuk “Berbahagia”

Berbeda dengan dua cerita terdahulu (Waidi dan Surajiono), adalah cerita Eti Dwikora Fitriana, 52 tahun. Ibu rumah tangga yang tinggal di RT 21 RW 06 Kelurahan Sorosutan ini bahkan tidak keberatan dititipi dua ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di rumahnya meski sepekan setelah penitipan pertama putera semata wayangnya terkena DBD.

Saat itu April 2017, Evan, puteranya yang masih duduk di bangku SMP kelas satu harus dirawat hingga 5 hari di rumah sakit. “Alhamdulillaah, tidak sampai parah,” tutur Eti. Ia bersyukur meski terus-terusan muntah ketika makan, Evan mau banyak minum, sehingga daya tahan tubuhnya terus meningkat. Ia belajar banyak dari keponakannya yang tiga tahun sebelumnya juga terkena DBD hingga fase kritis dan membutuhkan transfusi darah.

Ia sadar betul bahwa penitipan ember di rumahnya akan menambah nyamuk. Namun ia percaya akan apa yang ia dengar saat di pertemuan RW bahwa nyamuk yang keluar dari ember itu akan kawin dengan nyamuk setempat dan meneruskan generasi nyamuk yang tidak berbahaya. “Ya itu nyamuk yang berbahagia (ber-Wolbachia),” canda Eti memplesetkan kata Wolbachia. Ia pun sadar berhak meminta staf untuk memindahkan ember dari rumahnya setelah puteranya terkena DBD. Namun hal tersebut urung ia lakukan. Ia beserta suaminya yang bekerja di salah satu kantor berita di Yogyakarta merasa tidak ada salahnya berpartisipasi pada penelitian yang beritanya beberapa kali ia baca di media.

Pada waktu yang nyaris bersamaan, sejumlah anak di lingkungannya terkena DBD. “Ada tujuh anak, yang bersamaan dengan anak saya ada dua,” tutur Eti. Dalam pertemuan warga, beberapa anggota masyarakat juga mencurigai penitipan ember telur sebagai penyebab banyaknya warga yang terkena DBD. Warga juga merasakan bertambahnya populasi nyamuk tak lama setelah tujuh ember berisi telur nyamuk dititipkan di RW-nya. Namun warga lain menengarai bahwa banyaknya nyamuk itu karena nyamuk yang dilepas telah kawin dengan nyamuk setempat. Warga sebaiknya tetap tenang karena nyamuk-nyamuk itu akan menetralisir nyamuk setempat agar tak lagi berbahaya.

Eti membuktikannya sendiri. Beberapa saat setelah penitipan ember selesai, ia merasa nyamuk di rumahnya tak lagi banyak seperti sebelumnya. Ia pun mengamati tak ada lagi warga yang terkena DBD. Tak sedikitpun tersirat dalam wajahnya penyesalan telah berpartisipasi dalam penelitian tentang DBD yang bukti ilmiahnya ditunggu pada 2020 mendatang. Sebagai warga biasa, ia merasa nyamuk “berbahagia” telah menjalankan tugasnya.


Baca juga:

Dinkes Yogya: Penelitian EDP Yogya Tak Halangi Program Pemerintah

Andil Sapa Aruh Terhadap Persetujuan Warga Jomblangan