Ayo Reresik Malioboro

Malioboro bisa jadi merupakan jalan paling terkenal di Yogyakarta. Sedemikian terkenalnya, sulit membayangkan wisatawan, terutama yang baru pertama kali ke Yogyakarta, tak memasukkan Malioboro dalam daftar tempat yang akan dikunjungi. Pedagang kaki limanya, deretan andong yang siap mengantar berkeliling kota, warung lesehannya hingga kesenian angklung yang sering tampil saat malam tiba merupakan beberapa kekhasan Malioboro yang sayang dilewatkan.

Namun banyaknya wisatawan yang berkunjung berbanding lurus dengan banyaknya sampah yang dihasilkan. Meski tempat sampah telah disediakan di banyak sudut, tetap saja ada sampah yang terbuang tidak pada tempatnya. Kenyataan itu memantik banyak pihak yang peduli Malioboro untuk berbuat sesuatu.

Ket. gambar: Staf WMP Yogyakarta bahu membahu dengan peserta reresik Malioboro lainnya membersihkan tempat sampah.

Salah satu inisiatif datang dari pedagang kaki lima yang biasa berjualan di sepanjang Malioboro. Nama kegiatannya Reresik Malioboro (membersihkan Malioboro). Gelaran yang telah berlangsung sejak dua tahun yang lalu itu dilaksanakan 35 hari sekali. “Jadi tiap Selasa Wage seluruh pedagang libur untuk reresik Malioboro,” jelas Ekwanto, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro. Ia lalu menyampaikan apresiasinya terhadap World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta yang ambil bagian dalam gelaran tersebut pada Selasa, 5 Maret 2019.

Koordinator Komunikasi dan Penyertaan Masyarakat WMP Yogyakarta, Equatori Prabowo, sangat mengapresiasi kegiatan Reresik Malioboro. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan semangat perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). “Selain kegiatannya yang positif, kami juga memanfaatkan kesempatan ini untuk lebih dekat dengan masyarakat Jogja,” jelas Equatori. Ia merasa perlu untuk senantiasa dekat dan berbagi kabar dengan warga, terutama saat WMP Yogyakarta sedang intens melakukan kegiatan di Puskesmas.

Ket. gambar: Tak hanya disapu, pedestrian Malioboro juga disiram agar makin bersih.

WMP Yogyakarta telah selesai melakukan penitipan ember berisi telur Aedes aegypti ber-Wolbachia di sebagian Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Selain memantau persentase Wolbachia di wilayah penelitian, pihaknya tengah melakukan studi dampak pelepasan Wolbachia secara luas terhadap penurunan kasus DBD di Kota Yogyakarta. Studi tersebut dilakukan dengan merekrut pasien demam yang berobat di 18 Puskesmas di Kota Yogyakarta dan Kab. Bantul menjadi responden penelitian. Studi ini diharapkan telah selesai pada 2020 mendatang.

Pagi itu, lebih dari 20 staf WMP Yogyakarta berbaur dengan berbagai komunitas yang ambil bagian dalam kegiatan Reresik Malioboro. Tak hanya menyapu dan merapikan tanaman, mereka tak canggung membersihkan tempat sampah yang tak jarang mengeluarkan bau tak sedap. Tak luput, saluran air juga turut dibersihkan. Diharapkan, bau tak sedap dan nyamuk akan sirna seketika.


Baca juga:

Geliat Pemerti Code dan Sekolah Sungai

Garuk Sampah Untuk Bebas Demam Berdarah