Mereka Berperang Melawan Nyamuk

Kompas

KIPRAH PARA PENELITI

Mereka Berperang Melawan Nyamuk

Orang-orang ini ibarat telik sandi yang menyelidiki kelemahan lawan. Mereka adalah para peneliti yang memburu jentik, mengumpan diri sebagai santapan nyamuk, dan membedah renik virus dan parasit yang dibawa nyamuk. 

Hingga setelah merampungkan kuliah di Departemen Biologi Universitas Padjadjaran pada 2008, Lepa Shahrani (33) tak berpikir menjadi peneliti nyamuk, serangga yang bisa menularkan beragam penyakit. Ia baru tertarik jadi entomologis, dengan fokus kajian pada nyamuk, setelah bekerja di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, pada 2010. 

Menjadi asisten peneliti di Eijkman membuatnya terkaget-kaget karena tugasnya tak hanya berkutat di laboratorium dengan teknologi dan alat terbaru. Ia harus keluar masuk daerah endemik malaria mulai dari pedalaman Papua, Jambi, hingga Sumba untuk mengumpulkan jentik-jentik bersama para seniornya. 

Ia juga harus rela jadi ”ibu asuh” bagi nyamuk-nyamuk di laboratorium dengan mengumpankan tangannya digigiti serangga ini bergiliran, setiap hari. ”Awalnya kaget juga, tapi demi nyamuk, deh,” tuturnya. 

Pekerjaan memberi nyamuk makan ini, selain mengamati dan mencatat perilaku dan siklus hidupnya, dilakukan Lepa selama empat tahun saat bertugas di Laboratorium Lapangan Lembaga Eijkman-Universitas Hasanuddin di Pulau Sumba. Bahkan, sampai kini, ketika mendapat giliran tugas  lapangan ke Sumba, dia harus bersiap-siap ”mendonasikan” darahnya untuk nyamuk 

”Kalau nyamuknya tidak diberi makan tidak akan berkembang biak dan bakal mati, padahal kita perlu mempelajari siklus hidup mereka. Sekarang enggak seheboh awal-awal tugas kasih makan nyamuk. Kalau dulu, rasanya lihat nyamuk yang terus gigit tangan kita sampe gendut perutnya bawaannya pingin nepuk,” ujarnya.

Lepa mengaku sebenarnya alergi dengan gigitan nyamuk sehingga harus sedia balsem atau minyak gosok untuk mengobati bentol-bentol setelah memberikan makan nyamuk-nyamuk ini. ”Awalnya kami pakai kelinci Untuk memberi makan nyamuk ini, tetapi kasihan juga. Apalagi, kelinci harus dicukur untuk diumpankan. Akhirnya, kami jadi donor darah bergiliran,” ungkapnya.

Bagi Lepa, pengorbanan kecil yang dilakukannya tak seberapa dibandingkan data penelitian yang harus dikumpulkan. ”Saya terinspirasi Pak Din,” kata Lepa, menyebut senior yang juga mentornya, mantan Kepala Unit Penelitian Malaria Eijkman (1994-2004) Syafruddin (59). Guru Besar Kedokteran Unhas itu hampir separuh hidupnya dihabiskan untuk meneliti nyamuk dan parasit malaria. Meski menderita sejumlah penyakit, termasuk diabetes, Syafruddin masih aktif di lapangan. 

Selama 22 tahun, Syafruddin blusukan ke pelosok Indonesia berburu parasit malaria, penyakit menewaskan 600.000 orang di dunia per tahun itu. Selain mengumpulkan darah pasien malaria dan menelitinya, dalam beberapa kali kesempatan jalan bersama Syafruddin, ia membawa gayung untuk mengumpulkan jentik, seperti saat survei di pedalaman Bukit Duabelas, Jambi, Februari 2016. 

Puluhan tulisan Syafruddin dan para peneliti Eijkman dipublikasikan di jurnal internasional. Beberapa rekomendasi mereka jadi rujukan pemerintah dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Syafruddin menganggap tugas mereka jauh dari usai. ”Meski sebaran malaria di Indonesia turun, kita belum bisa menghilangkannya,” ungkapnya. 

”Penyakit DBD sejak 1968 ditemukan di Surabaya dan Jakarta, tetapi data kita, terutama sisi molekuler, amat sedikit. Kalau ada kajian, justru oleh peneliti luar, hingga kami membangun laboratorium dengue di Eijkman sekitar 2006,” kata Kepala Unit Penelitian Dengue Eijkman Tedjo Sasmono. Melalui kajian bertafhun-tahun, genom virus dengue mulai terpetakan. Namun, virus itu susah diatasi, memiliki beragam serotipe, dan karakteristik berbeda di tiap daerah.

Mengendalikan populasi

Perjuangan meneliti nyamuk pun dilakukan para periset di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan). Beni Ernawan (34), peneliti Batan, lebih dari lima tahun meneliti spesies nyamuk Aedes aegypti, vektor atau penular demam berdarah dengue (DBD). Di tengah sarana dan anggaran terbatas, ia berusaha menghasilkan nyamuk Aedes mandul untuk melawan DBD dengan teknik serangga mandul. ”Saat nyamuk mandul dewasa dan mengawini nyamuk betina, telur dihasilkan tak bisa menetas. Populasi nyamuk penular dengue bisa turun,” ujarnya. 

Untuk menghasilkan nyamuk mandul, saat masih berbentuk pupa perlu iradiasi. Pupa akan dipanen dengan petridish, cawan bentuk silinder. Pupa itu dimasukkan ke tabung iradiator untuk diradiasi. 

Kini risetnya masuk fase percobaan demi memastikan efektivitas teknik nyamuk mandul. Sebelumnya, proses panjang riset dilalui Beni hingga mengenal betul proses pertumbuhan nyamuk, mulai dari proses nyamuk jantan dan betina kawin, bertelur, hingga menetas jadi larva, lalu pupa dan jadi nyamuk dewasa.

Setiap hari, ia berkutat dengan nyamuk di laboratorium. Ia memastikan larva atau jentik nyamuk yang diteliti mendapat asupan cukup agar berkembang menjadi nyamuk untuk riset. Di awal riset, ia memakai tangannya untuk asupan darah nyamuk betina yang tak membawa virus dengue. 

”Waswas pasti. Saya, kan, meneliti spesies berbahaya bahkan paling mematikan di dunia. Di lain sisi, itu menyenangkan dan memotivasi saya. Bagaimana saya harus menyelesaikan riset ini untuk menolong banyak orang dan mewuiudkan kemaslahatan masyarakat luas," ujarnya.

Meski dukungan pemerintah dan sarana riset terbatas, Beni dan peneliti lain melanjutkan riset itu lewat dana hibah. ”Indonesia membutuhkan riset dan teknologi untuk menuntaskan masalah DBD,” ujarnya. 

Riset untuk menekan kasus DBD pun dilakukan tim peneliti di Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada dan Yayasan Tahija dengan wadah World Mosquito Program (WMP). Fokus utamanya, mencegah penularan virus dengue dengan memasukkan bakteri Wolbachia ke nyamuk Aedes

Pemimpin Proyek WMP Yogtakarta Adi Utarini memaparkan, riset itu berlangsung sejak 2011, di Yogiakarta. Pada 2014, tim WMP Yogyakarta mulai melepas nyamuk Aedes mengandung Wolbachia di sejumlah dusun di Kabupaten Sleman dan Bantul, Daerah Istimewa Yograkarta. 

Di awal riset, sempat muncul penolakan dari sejumlah warga di Sleman yang khawatir dampak pelepasan nyamuk itu. Setelah mendapat sosialisasi, warga akhirnya mendukung program itu 

Berbagai riset itu jadi bagian jalan panjang mengatasi DBD dan penyakit lain yang ditularkan nyamuk. Menurut Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat, nyamuk menyebabkan satu juta orang meninggal tiap tahun. Untuk. menghadapi pembunuh paling mematikan ini, kita berutang pada para peneliti yang beketja dalam sepi mempelajari kelemahan nyamuk dan penyakit yang dibawanya. 


Tulisan ini diketik ulang dari artikel Harian Kompas edisi 27 Februari 2019