Pengendalian DBD Butuh Riset dan Inovasi Teknologi

PENYAKIT TROPIK

Pengendalian DBD Butuh Riset dan Inovasi Teknologi 

Ancaman penyakit demam berdarah dengue terus membayangi di Indonesia. Selain implementasi kebijakan pemberantasan sarang nyamuk, riset dan inovasi teknologi diperlukan untuk mengendalikan penyakit yang ditularkan nyamuk itu. 

Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi yang dihubungi, Selasa (26/2/2019), di Jakarta, menyatakan, pemerintah, dalam hal ini Kemenkes, mendorong berbagai riset untuk menekan populasi nyamuk dengue di masyarakat. 

"Kami menanti hasil riset yang dilakukan peneliti di Indonesia. Riset baru bisa jadi kebijakan nasional saat memberi efektivitas penurunan kasus di semua daerah," ujarnya. Contohnya, riset nyamuk dengan bakteri Wolbachia oleh peneliti di Universitas Gadjah Mada didorong agar bisa diterapkan secara nasional. 

Pemerintah belum mengadopsi riset itu jadi program nasional karena belum ada bukti ilmiah keberhasilan yang kuat. Bakteri Wolbachia yang diimpor perlu dikaji dampaknya bagi ekosistem nyamuk. 

Riset untuk menekan populasi nyamuk dilakukan di sejumlah institusi. Namun, aktivitas itu masih terkendala. Menurut peneliti dari Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan), Beni Ernawan, sarana dan prasarana riset amat terbatas.

Tim peneliti Batan menghasilkan spesies nyamuk Aedes mandul untuk melawan DBD dengan teknik serangga mandul, tetapi belum diakui pemerintah sehingga belum diterapkan masif. ”Dukungan pemerintah minim dari pendanaan dan pengakuan," katanya.

Riset penyakit yang ditularkan nyamuk juga dilakukan instansi lain, antara lain lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Riset untuk menekan populasi nyamuk pun dilakukan tim peneliti dari UGM dan peneliti di beberapa negara melalui World Mosquito Program (WMP).

Fokus WMP adalah mencegah penularan virus dengue dengan memasukkan bakteri Wolbachia ke tubuh nyamuk Aedes aegypti yang menularkan virus dengue. Wolbachia ialah bakteri yang ada pada serangga dan menghambat pertumbuhan virus dengue di tubuh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk mengandung Wolbachia tak bisa menularkan DBD ke manusia.

Di Indonesia, WMP dijalankan di Yogyakarta atas kerja sama Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM serta Yayasan Tahija. Awalnya, program itu dinamai Eliminate Dengue Project lalu berubah nama menjadi WMP. 

Pimpinan proyek WMP Yogyakarta, Adi Utarini, kemarin, menjelaskan, riset itu berlangsung sejak 2011 di Yogyakarta. Pada 2014, tim WMP Yogyakarta mulai melepas nyamuk Aedes aegypti mengandung Wolbachia di beberapa dusun di Kabupaten Sleman dan Bantul, Daerah Istimewa Yograkarta. 

Nyamuk Aedes aegypti yang mengandung Wolbachia dan dilepasliarkan itu akan kawin dengan nyamuk Aedes aegypti biasa di alam bebas. Jadi, kandungan Wolbachia akan ditularkan ke nyamuk lain. 

Ketersediaan vaksin 

Selain itu, seiring kemajuan teknologi, menurut Siti, vaksin DBD jadi salah satu strategi pengendalian DBD. Namun, vaksinasi belum jadi program nasional karena belum ada jenis vaksin yang dapat diberikan ke pada masyarakat secara luas.

”Vaksin ini efektif diberikan kepada orang yang sudah terkena DBD,” kata Siti. Untuk jadi program nasional, butuh rekomendasi dari ahli. Vaksin DBD tersedia di rumah sakit atau dokter spesialis anak seharga sekitar Rp 1 juta sekali vaksin dan butuh tiga kali suntikan. 

Direktur Registrasi Obat Badan Pengawas Obat dan Makanan Rizka Andalucia mengatakan, efektivitas vaksin DBD 81 persen, di bawah standar pemerintah yakni di atas 90 persen. Vaksin itu bagi anak usia 9-16 tahun dan tak bisa untuk orang dewasa di Indonesia karena belum ada riset. 

Menurut Ketua Satuan Tugas Imunisasi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Cissy B Kartasamita, vaksin DBD sempat bermasalah sebab ada anak di Filipina meninggal setelah mendapat vaksin ini. Belum ada riset terkait kasus itu. 


Tulisan ini diketik ulang dari artikel Harian Kompas edisi 27 Februari 2019