Mengatasi DBD dengan Wolbachia

Mengatasi DBD dengan Wolbachia

Peneliti yang tergabung di World Mosquito Program Yogyakarta tengah menuntaskan penelitian menanggulangi demam berdarah dengeu (DBD). Caranya dengan menggunakan nyamuk ber-wolbachia, hasilnya efektif mengatasi dengeu. 

Wolbachia merupakan bakteri yang hidup secara alami di serangga,” terang dr Riris Andono Ahmad MPH PhD, selaku Coprincipal Investigator World Mosquito program Yogyakarta, kemarin sore. Ia menyebut, ada sekitar 60-70% serangga memiliki wolbachia, tetapi di nyamuk Aedes aegypti tidak ada. 

Peneliti asal Australia menghasilkan penelitian, wolbachia dapat mengeblok replikasi virus dengue. Artinya, jika nyamuk menghisap darah yang mengandung virus dengue, virus tersebut tidak dapat bereplikasin di dalam tubuh nyamuk. Akibatnya, virus dengue tidak dapat ditularkan ke orang lain. Selain itu, bakteri wolbachia menurun ke nyamuk generasi selanjutnya. 

“Kalau nyamuk betina ber-wolbachia kawin dengan jantan tidak ber-wolbachia, seluruh telurnya akan ber-wolbachia,” kata dokter yang juga menjabat Direktur Purat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan. 

Jika nyamuk jantan ber-wolbachia kawin dengan nyamuk betina tanpa wolbachia, telurnya tidak akan menetas. Kalaupun kedua jenis kelamin nyamuk ber-wolbachia, keturunannya juga akan ber-wolbachia

Penelitian nyamuk ber-wolbachia di Indonesia dimulai sejak 2011, mulai tahapan visibilitas penilaian komprehensif (asesmen) teknologi, keamanan, dan implementasi. Pada 2014, dilakukan pelepasan nyamuk pertama masing-masing dua pedukuhan di Sleman dan Bantul. 

Dari pelepasan nyamuk saat itu yang hanya dilakukan selama enam bulan, sekarang di daerah itu mayoritas nyamuknya ber-wolbachia. Persentasenya mencapai 80-90% nyamuk ber-wolbachia

Setelah itu, pada 2016 dan 2017, nyamuk berwolbachia juga dirilis di beberapa tempat di Kota Yogyakarta. Hasil pengamatan di seluruh Kota Yogyakarta lewat 500 perangkap nyamuk yang disebar, populasi nyamuk ber-wolbachia sekitar 80%-90%. Penelitian ini masih terus berjalan.

“Di lab memang sudah terbukti mengeblok penularan dengue, sedangkan di alam banyak faktor yang terlibat. Kita sedang melihat efektivitas intervensi tersebut, ” kata dia.

Hipotesis penelitian ini,kasus DBD di daerah yang tidak disebari nyamuk ber-wolbachia dua kali lipat daripada yang tidak disebari. Seharusnya, hasil penelitiannya sudah dapat diperoleh pada akhir 2019.

Namun, kasus dengue pada 2018 sangat rendah di DIY dan daerah-daerah lainnya. Pada saat itu, tidak punya banyak kasus yang bisa diteliti dan baru banyak kasus pada awal 2019. Alhasil, pihaknya memundurkan target penelitian hingga 2020. 

“Penelitian ini ditunggu WHO. Jika berhasil, teknologi ini sebagai strategi komplementer, pendamping, streategi yang sudah ada, yaitu pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” tandasnya.


Tulisan ini diketik ulang dari artikel harian Media Indonesia edisi 1 Februari 2019