Demam Berdarah Meningkat

Suara Merdeka

Demam Berdarah Meningkat

Aktifkan Pemberantasan Sarang Nyamuk

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Yogyakarta mengalami peningkatan. Sepanjang Januari 2019, tercatat ada 35 kasus. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode sama di tahun 2018 yang hanya ada tujuh kasus dan tidak ada korban meninggal dunia.

Peneliti World Mosquito Program (WMP), Prof Adi Utarini menjelaskan data Dinas Kesehatan Yogyakarta mencatat puncak kasus DBD terjadi pada 2016 dengan jumlah 1.705 kasus, dan 13 kematian. Berikutnya terjadi penurunan di tahun 2017, dan 2018 masing-masing 414 kasus dengan dua kematian, dan 113 kasus dengan dua kematian. 

la menekankan perlunya peningkatan kewaspadaan, pencegahan serta penanggulangan DBD. Salah satunya yang dilakukan oleh World Mosquito Program Yogyakarta dengan melakukan studi Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue (AWED).

Penelitian dilakukan Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM. 

”Studi AWED telah dijalankan sejak 2016 dengan melepaskan nyamuk mengandung wolbachia di sejumlah kecamatan dan penyebaran telah selesai dilakukan pada 2017. Dari hasil pemantauan yang dilakukan diketahui saat ini lebih dari 90 persen nyamuk Aedes Aegypti di Kota Yogyakarta sudah mengandung wolbachia,” ungkap Utarini kepada wartawan di kampus UGM, kemarin.

Kerja Sama 

Pihaknya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta melakukan perekrutan pasien demam yang berobat di 18 puskesmas/ puskesmas pembantu di Kota Yogyakarta dan satu puskesmas di Kabupaten Bantul. Studi dibagi menjadi dua wilayah yakni wilayah dengan intervensi nyamuk berwolbachia dan wilayah yang tidak diintervensi nyamuk berwolbachia. Pembagian wilayah untuk membandingkan kasus DBD di wilayah pelepasan Wolbachia. 

Setiap pasien demam yang datang ke puskesmas ditanya kesediaannya mengikuti studi tersebut. Sejak penelitian dimulai pada 2018 lalu hingga akhir Januari 2019 ini sudah ada 3.400 pasien yang berpartisipasi menjadi responden penelitian. Hasil studi baru bisa diketahui pada tahun 2020 mendatang namun setiap perkembangan selalu disampaikan ke Dinas Kesehatan. 

”Karena begitu besarnya ancaman DBD, kami minta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Ketika ada yang mengalami demam segera datangi fasilitas kesehatan terdekat. Pada umumnya fatalitas terjadi karena kurang waspada sehingga terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan. Saat ini puskesmas di Kota Yogyakarta telah ada perangkat tes untuk diagnosis dini DBD,” tandasnya 

Pada kesempatan sama, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengatakan pihaknya terus menggalakkan program pencegahan penyebaran DBD salah satunya kerja sama dengan UGM melalui World Mosquito Program. Selain itu juga mengeluarkan imbauan supaya warga melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Langkah lain yakni Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik dan Sambang Kampung serta aktivitas pemberantasan sarang nyamuk melibatkan berbagai dinas terkait.


Tulisan ini diketik ulang dari harian Suara Merdeka edisi 8 Februari 2019