Dinkes Bantul Ajak WMP Sosialisasi kepada Dokter di Bantul

Pada Rabu, 24 April 2019, World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta mendapat kesempatan untuk menyampaikan perkembangan penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) di hadapan para dokter Puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Bantul. Dokter Citra Indriani dari WMP Yogyakarta menjadi narasumber tunggal dalam acara pemutakhiran pengetahuan penyakit menular yang diadakan oleh Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul tersebut.

Kepala Seksi P2P Dinkes Bantul, dr. Sri Wahyu Joko Santoso berharap stakeholder kesehatan di Kabupaten Bantul mengetahui penelitian pengendalian DBD dengan bakteri Wolbachia yang telah dilakukan sejak 2011 itu. “Kita mengundang dokter fungsional dari beberapa rumah sakit dan Puskesmas,” imbuh dr. Sri. Menurutnya belum banyak praktisi kesehatan di wilayahnya yang mengetahui penelitian yang sedang berlangsung di sebagian kecil wilayah administratif Kabupaten Bantul ini.

Dalam sambutannya, dr. Sri mengatakan bahwa sejak awal 2019, DBD telah merenggut dua korban jiwa di wilayahnya. “Semuanya anak-anak,” imbuhnya. Ia mengamati kedua kasus berujung meninggal dunia itu karena keterlambatan dibawa ke fasilitas kesehatan. Meski demikian pihaknya akan melakukan audit lebih mendalam pada akhir April ini. Ia menyayangkan timbulnya korban jiwa mengingat pihaknya telah melakukan tindakan antisipasi dengan mengeluarkan surat edaran tentang kewaspadaan DBD sejak Januari 2019. Ia juga menilai layanan kesehatan di wilayahnya sudah bagus.

Dalam presentasinya, dr. Citra mengawali materinya dengan data kasus DBD sejak pertama kali ditemukan di Indonesia pada 1968. “Kalau kita amati, tren kasusnya cenderung naik,” jelas dr. Citra. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa suatu waktu terjadi penurunan kasus, namun akan naik kembali di waktu-waktu berikutnya. Dari data itulah kemudian muncul siklus peningkatan kasus DBD yang berbeda-beda di tiap daerahnya. Tren peningkatan kasus tersebut bukan berarti kurangnya layanan kesehatan maupun usaha pengendalian yang selama ini dilakukan. Faktor cuaca ditengarai menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi naik turunnya kasus DBD.

Fakta tentang kasus DBD yang senantiasa ada menimbulkan kesadaran akan perlunya inovasi metode pengendalian yang diharapkan dapat melengkapi program pengendalian yang selama ini telah dioptimalkan. Wolbachia merupakan salah satu metode yang saat ini masih diteliti. Berikutnya dr. Citra menjelaskan secara gamblang perihal penelitian yang kini tengah ada di fase untuk mengetahui dampak pelepasan Wolbachia secara luas terhadap penurunan kasus DBD di Kota Yogyakarta. Tak luput, ia menjelaskan pelibatan Desa Panggungharjo dan Bangunharjo di Kabupaten Bantul dalam studi yang tengah dilakukan WMP Yogyakarta.

Para peserta nampak serius memperhatikan materi dr. Citra yang disampaikan secara runtut tiap fasenya. Beberapa mengabadikan slide yang ditampilkan menggunakan gawai pintarnya. Di penghujung penjelasannya, dr. Citra berharap informasi yang ia sampaikan dapat bermanfaat dan disebarluaskan kepada masyarakat.


Baca juga:

WMP Yogyakarta Melatih Kembali Staf Puskesmas

Ember-Wolbachia Tidak Masuk Hitungan Angka Bebas Jentik