WMP Yogyakarta Paparkan Wolbachia di ASIA Dengue Summit 2019

World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta memaparkan teknologi Wolbachia yang terbukti potensial untuk mengendalikan penyakit demam berdarah dengue (DBD). Paparan tersebut disampaikan oleh peneliti utama WMP Global, Prof. Scott O’Neill, dan ahli serangga WMP Yogyakarta, Warsito Tantowidjoyo, pada forum Asia Dengue Summit (ADS) ke-4 di Jakarta, 13-15 Juli 2019.

Forum tersebut diikuti oleh para praktisi yang menangani DBD di Asia meliputi ahli medis, peneliti, pemerintah maupun pembuat kebijakan. Mereka berkumpul untuk saling bertukar gagasan, perkembangan dan capaian yang diperoleh terkait penanganan DBD di wilayah masing-masing.

Forum tiga hari itu dilaksanakan di dua tempat berbeda. Pre-Summit Workshop pada 13 Juli 2019 berlokasi di IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Main Summit pada 14 dan 15 Juli 2019 yang bertempat di Double Tree Hilton Jakarta. Di kedua lokasi tersebut, WMP Yogyakarta menyajikan perkembangan terkini dan membuka booth dengan menghadirkan nyamuk ber-Wolbachia dan poster hasil penelitiannya. Menteri Kesehatan RI menyempatkan diri mengunjunginya saat membuka acara di hari pertama.

Ket. gambar: Peneliti utama WMP Yogyakarta menjelaskan penelitian kepada Menteri Kesehatan RI di depan booth WMP Yogyakarta

Sedangkan di dalam forum, peneliti WMP Yogyakarta menyampaikan hasil midterm studi dampak implementasi teknologi Ae. aegypti ber-Wolbachia untuk pengendalian vector dengue. “Teknologi ini terbukti mengurangi 74 persen kasus DBD,” jelas Warsito. Angka tersebut diperoleh dari membandingkan data kasus yang dikumpulkan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta antara wilayah pelepasan Wolbachia dan wilayah pembanding.

Wilayah pelepasan yang dimaksud di atas adalah tujuh kelurahan di Kecamatan Tegalrejo dan Wirobrajan. WMP Yogyakarta telah memulai pelepasan Wolbachia di wilayah yang berada di bagian barat Kota Yogyakarta tersebut pada Agustus 2016. Sedangkan wilayah pembandingnya adalah Kecamatan Kotagede yang terletak di bagian timur Kota Yogyakarta. Kedua wilayah tersebut masuk ke dalam studi Quasi eksperimental WMP Yogyakarta.

Selanjutnya mulai Maret 2017, penelitian dampak pelepasan Wolbachia memasuki tahap studi CRCT (Cluster Randomized Control Trial). Dalam studi tersebut, WMP Yogyakarta membagi kota Yogyakarta menjadi 24 cluster. Dua belas cluster menjadi wilayah pelepasan nyamuk ber-Wolbachia, dan sisanya menjadi wilayah pembanding. Usai pelepasannya pada Desember 2017, 21 perawat dari WMP Yogyakarta mulai aktif menjaring responden dari 18 Puskesmas di wilayah Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul untuk mengumpulkan data kasus DBD. Harapannya, pada akhir 2020 bukti final penelitian WMP Yogyakarta tersebut didapatkan.


Baca juga:

Bersama Yayasan Tahija, EDP Yogya Datangkan Nyamuk ke Bali

EDP Yogya hadir di Panggung Tedx Jakarta: Niyata 2017