Wolly Goes to Bali di ICCESI 2019

Wolly kembali ke Bali untuk berpartisipasi dalam International Conference and the 10th Congress of the Entomological Society (ICCESI). Forum yang diadakan oleh Perhimpunan Entomologi Indonesia (PEI) ini dihelat di Harris Hotel & Residences Sunset Road, Kuta, 6-9 Oktober 2019. Kedatangan Wolly ke Bali ini bukanlah kali pertama. Pada 2016 dan 2018 Wolly pernah menyambangi Bali dalam Bali International Ophthalmology Review (BIOR), sebuah forum yang diikuti oleh ahli-ahli di bidang kedokteran mata.

Tahun ini, PEI mengambil tema: Learning from the Past, Adapting for the Future: Advancements in Ethnoentomology and Entomological Science for Food Security and Health. Sejumlah ahli serangga yang datang dari berbagai negara tersebut berkumpul untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka terkait isu-isu terkini di dunia serangga dan penelitian-penelitian terkait dengannya.

Tak tanggung-tanggung, WMP Yogyakarta berpartisipasi dalam tiga hal sekaligus. Pada sesi seminar panel, para peneliti WMP Yogyakarta memaparkan aspek keamanan, sosial masyarakat dan perkembangan penelitian yang tengah dilakukan. Sebagian besar audien yang mengikuti sesi ini tertarik dengan proses kajian risiko (risk assessment) terhadap pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. Prosesnya sendiri telah selesai dilakukan pada 2016. Ketua tim kajian risiko yang juga panelis pada sesi itu, Prof. Dr. Ir. Damayanti Buchori, MSc., menjelaskan proses yang telah dilakukan secara detil. “Boleh kita diskusikan lebih lanjut setelah ini,” ucap Prof. Damayanti menanggapi audien yang tertarik dengan metode yang digunakan saat melakukan kajian risiko.

WMP Yogyakarta juga mengirimkan dua stafnya untuk mempresentasikan poster. Dua poster yang dipresentasikan cukup menarik animo peserta konferensi. Masing-masing mengambil tema Dampak Wolbachia terhadap Resistensi Insektisida pada Ae. aegypti dan Hubungan antara Cuaca dan Dinamika Populasi Ae. aegypti dan Culex quinquefasciatus. Namun ketertarikan peserta tak hanya pada dua tema di atas. “Malah ada yang tanya respon masyarakat terhadap penelitian,” tutur Sri Yuliani Dewi, staf WMP Yogyakarta yang mempresentasikan poster. Bersama Indira Utami, ia mempresentasikan poster dan menjawab semua pertanyaan peserta.

Ket. gambar: Salah seorang pengunjung mencoba memberi makan nyamuk di booth WMP Yogyakarta.

Rasa penasaran peserta makin terjawab ketika mereka mengunjungi booth WMP Yogyakarta. Di booth ini, peserta dapat mengamati aneka sampel penelitian seperti nyamuk, telur, pupa dan larva. Bahkan, pengunjung juga dapat merasakan langsung sensasi memberi makan nyamuk, seperti yang dilakukan pemilik akun @itonwikantyoso. “Akhirnya saya bisa merasakan memberi makan nyamuk seperti yang sering saya lihat di Instagram WMP @wmpyogyakarta,” jelas pengunjung yang merelakan lengannya digigit nyamuk.

Tak hanya peserta seminar, beberapa staf Dinas Kesehatan di Bali yang diundang untuk mengikuti seminar panel pun turut mengunjungi booth. Sebelumnya, mereka menerima pemaparan dari peneliti utama WMP Yogyakarta, Prof. Adi Utarini terkait rencana studi implementasi yang akan dilakukan setelah WMP Yogyakarta menyelesaikan studi Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue (AWED) di Kota Yogyakarta. “Semoga kami dapat segera menyelesaikan studi AWED dan mendapatkan bukti kuat dampak Wolbachia dalam menurunkan DBD,” jelas Prof. Uut kepada staf Dinas Kesehatan yang hadir.


Baca juga:

Bersama Yayasan Tahija, EDP Yogya Datangkan Nyamuk ke Bali

Ke Code Belajar tentang Sungai dan DBD