Akurasi Tinggi Penelitian Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia

Adakah yang pernah mendengar pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) bukan dengan membunuh nyamuknya, tetapi justru menggunakan nyamuk sebagai medium?

Biasanya kita mengenal fogging dan 3M Plus (menguras, menutup, mengubur, dan ikanisasi) dalam upaya mencegah dan memberantas demam berdarah. Saat ini ada inovasi baru dalam mencegah demam berdarah, melengkapi strategi pengendalian demam berdarah yang sudah ada, yaitu dengan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia.

Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia merupakan nyamuk yang sudah mengandung bakteri Wolbachia, bakteri yang terdapat pada 70% serangga (Werren,1995; Winert, 2007). Wolbachia diekstrak dari Drosophila Melanogester (lalat buah) yang diisolasi dan dimicroinjeksi ke dalam telur nyamuk Aedes aegypti, dengan harapan di awal penelitian, Wolbachia akan mengurangi umur nyamuk dalam menyebarkan virus dengue. Microinjection ini memakan waktu yang sagat lama hingga 10 tahun, dengan ribuan kali percobaan. Setelah proses microinjeksi berhasil, alih-alih fokus pada pengurangan umur nyamuk, temuan yang lebih menarik adalah ternyata Wolbachia dapat menghambat replikasi virus dengue dalam nyamuk Aedes aegypti. Karenanya, saat nyamuk Ae.aegypti ber-Wolbachia menggigit manusia yang terinfeksi virus dengue, nyamuk tersebut tidak dapat menularkan virus dengue pada manusia lainnya.

 

Laporan Public Health

Pertanyaan selanjutnya, dari mana nyamuk ber-Wolbachia diketahui bisa mengurangi kasus demam berdarah? Sejak tahun 2016, World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta mulai memantau dan mengambil data dari rumah sakit serta puskesmas di Kecamatan Tegalrejo, Wirobrajan, dan Kotagede untuk melihat perkembangan laporan kasus demam berdarah yang dialami warga. Metode yang WMP lakukan di tahun 2016 adalah quasi experiment. Tentu dari ketiga daerah itu, ada yang dijadikan sebagai daerah yang disebarkan nyamuk ber-Wolbachia dan ada daerah yang tidak disebarkan nyamuk ber-Wolbachia sebagai daerah pembanding. Tujuh kelurahan di Kecamatan Tegalrejo dan Wirobrajan merupakan daerah yang sengaja dilepas nyamuk Wolbachia, sedangkan Kotagede tidak dilepas nyamuk ber-Wolbachia.

Ket. gambar: Warga Pakuncen, Kecamatan Wirobrajan (kanan) secara simbolis menerima penitipan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia pada Agustus 2016.

Hasil studi quasi memberikan angka yang membahagiakan. Hasilnya, penurunan kasus demam berdarah di Kecamatan Tegalrejo dan Wirobrajan sebesar 79%. Tentu ini merupakan angin segar bagi dunia akademik dan publik karena ditemukan cara yang mampu melengkapi pencegahan penyakit demam berdarah selain dari intervensi terhadap perilaku manusia.

Turun Tangan Perawat ke Puskesmas

Memperkuat hasil laporan sebelumnya, WMP Yogyakarta mencari data dengan cara yang lebih akurat untuk mengetahui efektivitas Wolbachia dalam pengendalian DBD, meskipun prosesnya lebih kompleks daripada quasi experiment. Sejak tahun 2017, perawat dari WMP diturunkan ke puskesmas-puskesmas di Kota Yogyakarta untuk merekrut pasien demam berdarah menjadi partisipan studi.

Ket. gambar: Perawat peneliti WMP Yogyakarta (kanan) saat melakukan rekrutmen pasien suspek DBD di Puskesmas Mantrijeron Desember 2019 silam.

Jika studi quasi ini bentuk pencarian datanya pasif hanya dengan laporan puskesmas, rumah sakit dan dinas kesehatan, maka di tahun 2017 WMP Yogyakarta lebih proaktif dengan menerjunkan perawat ke puskesmas. Studi ini disebut sebagai Cluster Randomized Controlled Trial (CRCT) atau juga dikenal dengan Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue (AWED). Dalam kajian ilmiah, metode CRCT dilakukan dengan jumlah sampel besar, untuk melihat efektivitas Wolbachia dalam penurunan dengue.  

Apabila dengan metode quasi experiment tadi hasilnya bisa menurunkan sebesar 79% kasus demam berdarah, maka metode CRCT ini hasilnya akan diumumkan pada tanggal 26 Agustus 2020 ini. Kabar penelitian dari metode CRCT ini akan dinanti oleh kalangan akademik, berbagai pemangku kepentingan, dan masyarakat. Tentu, melihat proses panjang penelitian dan metodologi yang akurat tadi membuat kita semakin optimis dan yakin bahwa suatu saat nanti masyarakat bisa terbebas dari penyakit demam berdarah. (AA)

 

*Artikel ini dipublikasikan sebagai bagian dari Festival Inovasi Wolbachia.