Upaya Lembaga Filantropi untuk Eliminasi Demam Berdarah di Indonesia

Yayasan Tahija dan WMP Yogyakarta berpartisipasi dalam Webinar Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) dengan menyelenggarakan webinar bertema “Upaya Lembaga Filantropi untuk Eliminasi Demam Berdarah di Indonesia” pada 26/10 lalu. Rangkaian acara yang diselenggarakan oleh PERSI ini menggali bagaimana kiprah Yayasan Tahija sebagai lembaga filantropi ventura, yang memberi dukungan penuh pada penelitian pengendalian demam berdarah WMP Yogyakarta.

Dr. Shelley L. Tahija, Sp.PK, Anggota Pengawas Yayasan Tahija, yang menjadi narasumber webinar sesi pertama menyampaikan bagaimana awal mula Yayasan Tahija fokus pada permasalahan demam berdarah. Awalnya, Yayasan Tahija melalukan kegiatan filantropi konvensional di bidang pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup, dengan memberikan bantuan seperti saat pasca bencana tsunami di Aceh, operasi katarak, dan bantuan lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, Yayasan Tahija ingin memberi sesuatu yang lebih berarti bagi masyarakat. Memberi perhatian pada bidang kesehatan, Yayasan Tahija berkomitmen untuk mengeliminasi penyakit demam berdarah yang masih menjadi masalah kesehatan utama di masyarakat.

Sejak saat itu, menurut Dr. Shelley, Yayasan Tahija bertransformasi menjadi lembaga filantropi ventura. Filantropi ventura mempunyai peranan yang lebih besar, yaitu dengan memberi pendanaan dalam jangka waktu panjang, memberi dukungan sumber daya intelektual dan teknologi tinggi, manajemen program, dan komitmen dalam jangka panjang. Filantropi ventura juga mempunyai risiko tinggi, dimana program yang didanai bisa saja gagal di tengah jalan, dengan investasi besar yang telah dikeluarkan.

Sebelum mendukung penelitian WMP Yogyakarta, Yayasan Tahija sudah berfokus pada permasalahan dengue dengan menggunakan larvasida. Sayangnya, program ini belum efektif mengurangi kejadian demam berdarah dengue. Hingga pada 2011, Yayasan Tahija bertemu dengan World Mosquito Program, yang menggunakan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia untuk eliminasi dengue. Pada saat itu, kriteria daerah penelitian yang diperlukan cocok dengan karakteristik Kota Yogyakarta, dengan kepadatan penduduk dan kasus dengue yang tinggi. Hal ini seiring dengan dukungan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X, dan pemerintah daerah Yogyakarta terhadap penelitian ini.

Dibalut dalam nuansa talkshow, webinar sesi pertama turut menghadirkan Prof. dr. Adi Utarini, MSc, MPH, PhD, Peneliti Utama WMP Yogyakarta. Prof Uut demikian dipanggil, menyampaikan bahwa selama ini banyak cara yang telah dilakukan untuk menekan dengue, mulai dengan mengurangi populasi nyamuk, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), 1 rumah 1 jumantik, vaksin, dan jika terjadi kasus dengue dilakukan fogging.

Ket. gambar: Prof. Adi Utarini saat menjadi pembicara dalam Webinar Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) 2020

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan WMP Yogyakarta adalah melakukan intervensi terhadap vektor dengue, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Menurut Prof Uut, teknologi ini awal mula dikembangkan di Monash University, dengan melakukan microinjection Wolbachia ke dalam telur nyamuk Aedes aegypti. Di Yogyakarta, telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia ini dikembangkan.

“Kita melakukan backcrossing sehingga nyamuk yang dihasilkan secara genetik sangat mirip dengan nyamuk di Yogyakarta, sehingga saat dilepas di alam bebas, nyamuk lokal tertarik kawin dengan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia ini,” papar Prof Uut.

Prof Uut menjelaskan, berbeda dengan yang dilakukan di Singapura, yang dilepaskan di Yogyakarta adalah telur nyamuk jantan dan betina, sehingga populasi nyamuk masih ada dan berkelanjutan. Dari studi dampak efikasi Wolbachia yang dilakukan, hasil penelitian menunjukkan teknologi Wolbachia efektif menurunkan 77% dengue di area intervensi, dibandingkan di area kontrol.

“Saat ini, kami sedang mengembangkan model implementasi teknologi Wolbachia di masyarakat. Kami berharap teknologi ini bisa direplikasi di daerah endemik DBD lainnya, tentu dengan persetujuan dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah dan masyarakat,” Ujar Prof Uut.

Prof Uut lebih lanjut menyasar rumah sakit sebagai asosiasi, bisa juga turut berpartisipasi dalam mengadvokasi teknologi Wolbachia ini. Dengan strategi pengendalian dengue yang efektif, jumlah pasien dengue bisa berkurang signifikan, dan tentu budget yang dikeluarkan pun menjadi berkurang.

Dipandu oleh dr. Lia Partakusuma, Sekretaris Jenderal PERSI sebagai moderator, pada sesi kedua webinar dihadirkan dua pembicara yaitu Warsito Tantowijoyo, PhD, Entomology Team Leader WMP Yogyakarta, dan dr. Riris Andono Ahmad, MPH, PhD, Peneliti Pendamping WMP Yogyakarta. Pada kesempatan ini, Warsito memberi penjelasan lebih mendalam tentang teknologi Wolbachia, dan dr. Donnie menjelaskan tentang pentingnya pelibatan masyarakat dalam implementasi inovasi teknologi Wolbachia tersebut.

Seminar Nasional XVII PERSI ini juga mendapat sambutan dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Terawan Agus Putranto. Dalam sambutannya, Terawan menyampaikan arahan Presiden dalam penanggulangan COVID-19 yaitu penurunan kasus baru, kenaikan angka kesehatan, dan penurunan kasus kematian.

Selain menyelenggarakan webinar, Yayasan Tahija dan WMP Yogyakarta juga menghadirkan virtual booth bersama 51 peserta booth lainnya yang berasal dari Rumah Sakit, perusahaan di bidang farmasi, dan lembaga filantropi, selama periode 26 Oktober-26 Desember 2020. Untuk mengunjungi virtual booth tersebut, bisa mengakses informasi lebih lengkapnya di tautan berikut: bit.ly/VirtualBoothPERSI

Ket. gambar: Partisipasi Yayasan Tahija (WMP Yogyakarta) dalam Virtual Event – Seminar Nasional XVII PERSI 2020