Penelitian Pengendalian Dengue di Yogyakarta, Sumbangsih Masyarakat Yogyakarta bagi Kesehatan Dunia

Nature-Jurnal ilmiah terkemuka di dunia berbasis di London, merilis daftar 10 tokoh dunia yang menentukan perkembangan sains di tahun 2020 pada 15/12 lalu. Dalam daftar ini, Peneliti Utama WMP Yogyakarta, Prof. Adi Utarini, masuk sebagai 1 dari 10 tokoh dunia tersebut, atas penelitian pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) yang berhasil menurunkan 77% kasus dengue di Kota Yogyakarta. Penemuan ini diharapkan menjadi terobosan baru dalam upaya melawan DBD.

Prof. Adi Utarini, yang akrab disapa Prof Uut menyampaikan, untuk sampai pada tahap ini beliau tidak bekerja sendiri. Ada banyak ahli yang terlibat, mulai dari ahli entomologi, biologi molekuler, epidemiologi, pelibatan masyarakat dan media, manajemen pengetahuan, dan advokasi kebijakan. Prof Uut menegaskan, bahwa pencapaian ini merupakan buah dari hasil kerja keras seluruh tim WMP Yogyakarta selama bertahun-tahun, sejak dimulainya penelitian ini di tahun 2011. Penelitian ini juga merupakan kolaborasi antara WMP bersama FKKMK Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan dukungan pendanaan penuh dari Yayasan Tahija.

“Saya sangat berterima kasih kepada masyarakat Yogyakarta, pemerintah daerah, dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang telah memberi kepercayaan penuh pada WMP Yogyakarta dan UGM, sehingga penelitian bisa sampai pada tahap ini. Ini merupakan sumbangsih masyarakat Yogyakarta bagi kesehatan dunia,” kata Prof Uut.

Sebelum nyamuk ber-Wolbachia dilepaskan di Kota Yogyakarta, pada tahun 2014 WMP Yogyakarta, yang sebelumnya dikenal dengan Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta, melakukan pelepasan terbatas di 2 area, yaitu pelepasan nyamuk dewasa di 2 dusun di Kabupaten Sleman, yaitu Dusun Karangtengah dan Ponowaren, Desa Nogotirto, dan Dusun Kronggahan 1 dan 2, Desa Trihanggo. Serta penitipan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di 2 Dusun di Kabupaten Bantul, yaitu Dusun Singosaren 3, Desa Singosaren, dan Dusun Jomblangan, Desa Banguntapan. Proses pelepasan nyamuk terbatas ini disertai dengan surveilans aktif dengue.

Ket. foto: Staf Entomologi Lapangan WMP Yogyakarta mempersiapkan ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di Dusun Singosaren pada tahun 2015

Setelah pelepasan terbatas di Sleman dan Bantul, di tahun 2016 kemudian dilakukan pelepasan telur nyamuk ber-Wolbachia di daerah penelitian Kuasi Eksperimental, yaitu di Kecamatan Tegalrejo dan Wirobrajan sebagai area intervensi, dan Kecamatan Kotagede sebagai area kontrol. Pelepasan nyamuk ber-Wolbachia dilakukan selama 7 bulan, dengan sistem surveilans dengue dari Dinas Kesehatan.

Setelah studi Kuasi Eksperimental dilakukan, pada 2017 dilanjutkan dengan penelitian Aplikasi Wolbachia dalam Eliminasi Dengue (AWED) di Kota Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan rancangan Randomized Controlled Trial, standar tertinggi dalam penelitian klinis. Dalam penelitian ini, Kota Yogyakarta dibagi menjadi 24 klaster, dimana 12 klaster menjadi area intervensi, area yang dilepaskan nyamuk ber-Wolbachia, dan 12 klaster sebagai area pembanding, tidak disebari nyamuk ber-Wolbachia.

 Ket. foto: Pengacakan terbuka oleh Kadinkes Kota Yogya untuk menentukan wilayah intervensi dan pembanding rilis Wolbachia pada tahun 2017

Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dititipkan di rumah warga yang bersedia menjadi orang tua asuh dalam bentuk telur nyamuk. Telur-telur nyamuk tersebut berada dalam ember, yang setiap 2 minggu sekali diganti telur, air, dan makanan nyamuk di dalamnya. Ini dilakukan dalam kurun waktu 6 bulan, sampai Wolbachia menetap di suatu daerah, atau persentasenya lebih dari 60%.

Selain itu, surveilans dengue dilakukan secara aktif, dengan menempatkan perawat peneliti di 17 Puskesmas dan Pustu di Kota Yogyakarta dan Sewon 2 Bantul. Di puskesmas-puskesmas tersebut, dilakukan perekrutan pasien dengue sebagai partisipan penelitian, untuk melihat dampak pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dalam menurunkan kasus dengue.

Ket. foto: Perawat Peneliti WMP Yogyakarta melakukan perekrutan pasien demam di Puskesmas Danurejan 2 pada Desember 2019

Penelitian AWED berakhir pada Agustus lalu, dengan hasil penelitian 77% reduksi kasus dengue di area intervensi dibandingkan dengan area pembanding di Kota Yogyakarta. Setelah berakhirnya tahap penelitian ini, seluruh tim WMP Yogyakarta berharap hasil penelitian bisa diimplementasikan di daerah lainnya di luar Yogyakarta. Sebagai metode yang melengkapi program pengendalian DBD yang sudah berjalan, implementasi teknologi Wolbachia tentu memerlukan pendanaan dan kerja sama antarlembaga, sehingga penerapan teknologi ini bisa diperluas, dan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.