Kisah dari Dusun Kronggahan, Kalurahan Trihanggo

Kabupaten Sleman punya makna penting bagi World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta. Bukan hanya karena lokasi kantor berada di salah satu kabupaten yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, melainkan banyak cerita suka dan duka juga tertoreh di sini. Salah satu peristiwa penting yang akan selalu dikenang, terjadi beberapa tahun lalu di Dusun Kronggahan, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping.

Kejadiannya terjadi sekitar tahun 2014. Jauh sebelum teknologi Wolbachia diterapkan secara luas di Kota Yogyakarta. Saat itu, inovasi pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) ini bernama Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya. Ketika itu proses kawin silang dan uji keamanan Aedes aegypti ber-Wolbachia di laboratorium telah dilewati dengan baik. Langkah penelitian berikutnya adalah melepaskan nyamuk-nyamuk tersebut secara terbatas di beberapa lokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satu lokasi pelepasan nyamuk tersebut adalah di dusun ini.

Ket. foto: Dukuh Kronggahan, Anto Sudadi (kanan) saat melihat nyamuk ber-Wolbachia sebelum dilepaskan di wilayahnya pada tahun 2014.

"Pada saat program ini diberitahukan, saya berpikir apakah ini bermanfaat dan berhasil tidak bagi masyarakat. Namun saya juga selalu berpikir kapan ada inovasi untuk mengatasi permasalahan kasus demam berdarah di wilayah kami," ujar Lurah Trihanggo, Herman Budi Pramono.

"Ketika tahu program ini didukung oleh Universitas Gadjah Mada, dinas-dinas terkait, serta lembaga-lembaga terpercaya, saya yakin program ini bisa diandalkan." lanjut beliau.

Pelepasan nyamuk di dusun ini dilaksanakan pada 23 Januari 2014. Proses dan teknik pelepasannya sedikit berbeda dengan apa yang dilakukan saat ini. Sekarang metodenya adalah dengan meletakkan ember berisi telur-telur calon nyamuk ber-Wolbachia di beberapa tempat yang telah ditentukan sebelumnya, sedangkan di masa tersebut yang dilepaskan benar-benar nyamuk dewasa ber-Wolbachia-nya.

Penyebaran nyamuk ber-Wolbachia bukannya tanpa halangan. Ada saja beberapa pihak yang menyangsikan metode ini. Terlebih, mengendalikan DBD dengan melepaskan nyamuk menjadi tanda tanya besar sebagian warga. “Melawan DBD kok melepas nyamuk?”, begitu tanya mereka.

Namun, kehadiran sejumlah tokoh nasional dan dunia seperti kunjungan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir hingga salah satu orang terkaya di dunia, Bill Gates beberapa tahun silam membuat masyarakat sekitar menjadi yakin dengan metode Wolbachia.

Ket. foto: Lurah Trihanggo, Herman Budi Pramono, SE (kanan) saat menyambut kunjungan Menristekdikti saat itu, Prof. Drs. H. Mohamad Nasir (duduk keempat dari kiri) 2016 silam.

“Efeknya, para tokoh masyarakat jadi makin mantap dan semangat menyambut program yang terbukti bukan program sembarangan ini,” urai Dukuh Kronggahan, Anto Sudadi.

Bibit kepercayaan masyarakat tersebut berbuah enam tahun kemudian. Ketika penelitian ini mencapai hasil yang sangat menjanjikan. Setelah melalui gold-standard Randomised Controlled Trial yang dilakukan di Kota Yogyakarta, hasilnya menunjukkan penurunan 77% kejadian demam berdarah di komunitas yang dilepaskan nyamuk ber-Wolbachia. Keberhasilan ini diumumkan pada Agustus 2020.

Hal tersebut disusul peluncuran secara resmi program pengendalian DBD berbasis Wolbachia bernama “SI WOLLY NYAMAN” pada 16 Februari 2021, di Kabupaten Sleman. Sebagai dusun yang berpartisipasi dalam penelitian pada 2014, populasi nyamuk ber-Wolbachia di sini mencatatkan angka yang tinggi. Dan dengan tiadanya jumlah kasus penularan lokal DBD, membuktikan bahwa Wolbachia telah memberikan perlindungan kepada masyarakat Kronggahan. Di 2021 ini, seluruh Kalurahan Trihanggo berpartisipasi dalam wilayah yang dijangkau oleh program tersebut.

Tentu saja kali ini berbeda dari sekadar pelepasan nyamuk seperti yang dahulu pernah dilakukan. Selain karena secara resmi menjadi program pemerintah kabupaten, yang membuat program ini makin terpercaya, juga karena kali ini masyarakat, yang diwakili oleh para aparat kalurahan dan dusun, juga memberi dukungan penuh pada program ini di kalurahan dan dusun mereka.

Hal tersebut terlihat saat sosialisasi program Si Wolly Nyaman di balai Kalurahan Trihanggo, 22 Maret 2021, yang lalu. Tidak tanggung-tanggung, dukungan dan komitmen langsung datang dari Panewu Kapanewon Gamping, Ikhsan Waluyo, S.Sos., yang juga berkesempatan hadir.

Ket. foto: Programmer DBD Puskesmas Gamping 2, Muh. Fadli saat memberikan penyuluhan program Si Wolly Nyaman kepada para peserta sosialisasi di Balai Desa Trihanggo 22 Maret 2021.

“Kami bersama warga berterima kasih pada segenap tim WMP yang selama ini membantu tugas-tugas kami di bidang kesehatan, telah mengadakan penelitian yang hasilnya sangat baik. Semoga ini apa yang telah dimulai di Trihanggo ini, dapat disebarkan di daerah lain.” ungkap  Ikhsan Waluyo, S.Sos. di acara tersebut.

Semoga kepercayaan dan dukungan penuh ini menjadi sarana bagi tercapainya tujuan program Si Wolly Nyaman, terlebih di dusun dan kalurahan yang punya makna penting bagi WMP Yogyakarta tersebut.