Diskusi Bersama Harvard Club of Indonesia Tentang Teknologi Wolbachia dalam Melawan Dengue di Indonesia

Sudah lebih dari 50 tahun Indonesia melawan Demam Berdarah Dengue (DBD). Sudah banyak intervensi yang dilakukan, namun belum ada metode jangka panjang yang efektif dalam menurunkan kasus DBD setiap tahunnya. Dengan mudah kita temui, kerabat atau kolega yang pernah terjangkit DBD. Melihat hal ini, Keluarga Tahija tertarik dan mulai fokus pada dengue. Alasan mendasar, karena anggota keluarga ini pernah terjangkit penyakit yang dekat dengan masyarakat Indonesia tersebut. Lebih lanjut disampaikan Dr. Sjakon G. Tahija sebagai Ketua Pembina Yayasan Tahija, dalam diskusi “New Era in Ending Dengue” yang diselenggarakan oleh Harvard Club of Indonesia pada (18/8) lalu, Yayasan Tahija mulai fokus untuk mencari inovasi dan berinvestasi dalam penelitian pengendalian dengue sejak 2004.

Dalam kesempatan tersebut Dr. Sjakon bercerita tentang awal perjalanan Yayasan Tahija sebagai yayasan filantropi ventura yang terlibat dalam penelitian pengendalian dengue. Saat itu yayasan tertarik dengan intervensi pengendalian dengan menggunakan larvasida yang disebarkan pada tempat-tempat penampungan air di sebagian besar wilayah permukiman warga di Kota Yogyakarta. Tujuannya untuk mengontrol perkembangan populasi nyamuk. Saat itu sebanyak 360 orang bekerja bagi Yayasan Tahija, dengan menginisiasi pendekatan ke pemangku kepentingan dan melakukan kunjungan dari rumah ke rumah untuk memantau perkembangan jentik nyamuk.

Ket. gambar: Dr. Sjakon G. Tahija menceritakan awal perjalanan Yayasan Tahija sebagai yayasan filantropi ventura yang terlibat dalam penelitian pengendalian DBD dalam diskusi “New Era in Ending Dengue

“Namun sayangnya, setelah menghabiskan dana 5 juta USD, kami menemukan bahwa larvasida tidak berhasil dalam mengontrol populasi nyamuk Aedes aegypti di Kota Yogyakarta,” ujar Dr. Sjakon.

Dari kegagalan ini, Dr. Sjakon dan keluarga menghentikan proyek yang telah memiliki investasi sosial di Kota Yogyakarta selama 6 tahun tersebut. Lebih lanjut, Keluarga Tahija bermaksud untuk menghentikan pembiayaan yayasan dalam bidang intervensi pengendalian penyakit DBD. Namun sebelum keputusan ini diambil, beliau bertemu dengan Dr. Duane J. Gubbler, ilmuwan dengue terkemuka di dunia, yang menyarankan Yayasan Tahija untuk mengadopsi teknologi inovatif yang sedang dikembangkan.

Dr. Duane menawarkan 2 proyek. Pertama, proyek nyamuk yang disterilkan yang saat ini digunakan oleh pemerintah Singapura dalam mengendalikan dengue. Kedua, pengendalian dengue dengan melepas nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia yang dikembangkan oleh Prof. Scott O’Neill di Monash University. Saat itu Dr. Sjakon tertarik dengan proyek kedua, untuk menggunakan teknologi Wolbachia dalam pengendalian dengue di Kota Yogyakarta. Dan pada tahun 2011, Yayasan Tahija menandatangani kontrak bersama Monash University dalam penggunaan teknologi Wolbachia untuk pengendalian dengue di Kota Yogyakarta. Project yang sepenuhnya dibiayai oleh Yayasan Tahija tersebut bernama Eliminate Dengue Project (EDP) Yogyakarta, yang kemudian berganti nama menjadi World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta.

Ket. gambar: Peletakan ember berisi telur Nyamuk ber-Wolbachia bersama Lurah Sosromenduran pada tahun 2017.

Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., M.P.H., Ph.D, Peneliti Utama WMP Yogyakarta, yang menjadi narasumber kedua dalam diskusi ini menyampaikan bahwa dalam berkegiatan dengan masyarakat, pesan yang disampaikan adalah untuk melawan virusnya, bukan nyamuknya. Nyamuk Aedes aegypti ini selalu ada di sekitar kita, baik di musim penghujan maupun musim kemarau. Guru Besar UGM yang biasa disapa Prof. Uut ini menyampaikan, teknologi Wolbachia adalah teknologi yang aman. Wolbachia merupakan bakteri yang ditemukan pada 60% serangga, yang berfungsi menghambat perkembangan virus dengue pada tubuh nyamuk Aedes aegypti.

Prof. Uut juga menjelaskan bagaimana proses pelepasan Wolbachia dilakukan di masyarakat. Ember-ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia dititipkan di rumah-rumah warga yang bersedia menjadi orang tua asuh dan ditempatkan juga di fasilitas umum. Penggantian telur nyamuk dilakukan setiap dua minggu sekali, dalam periode 6 bulan. Setelah menetas, nyamuk kemudian akan terbang keluar dari ember dan kawin dengan nyamuk Aedes aegypti lokal.

Uji efikasi Wolbachia dilakukan sejak tahun 2017 sampai dengan Agustus 2020. Uji tersebut dilakukan di Kota Yogyakarta dengan membagi area menjadi 24 klaster, dimana 12 klaster mendapatkan intervensi Wolbachia, dan 12 klaster lainnya tidak mendapatkan intervensi Wolbachia. Setelah pelepasan nyamuk, kemudian dilakukan proses rekrutmen pasien DBD di puskesmas dari seluruh wilayah klaster tesebut.

“Hasilnya menggembirakan, Wolbachia efektif menurunkan 77% kasus dengue dan menurunkan 86% pasien DBD yang dirawat di rumah sakit,” papar Prof. Uut.

Ket. gambar: Prof. Adi Utarini mengumumkan hasil penelitian studi RCT WMP Yogyakarta pada Agustus 2020.

Dr. Claudia Surjadjaja, Direktur Regional Asia World Mosquito Program, sebagai pembicara ketiga menyampaikan, setelah keberhasilan penelitian Wolbachia dan implementasinya di Yogyakarta, WMP menargetkan untuk memperluas aplikasi teknologi tersebut di 7 kota besar di Indonesia. Dr. Claudia menambahkan, WMP bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan para pemangku kepentingan lainnya dalam implementasi teknologi Wolbachia di daerah-daerah tersebut.

Hasan M. Soedjoeno, salah satu alumni Harvard yang menjadi peserta diskusi mengajukan pertanyaan, apakah program akan berhasil jika tanpa keterlibatan masyarakat?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Prof. Uut menyampaikan keterlibatan masyarakat menjadi kunci keberhasilan program tersebut.  Masyarakat Yogyakarta sangat terbuka dan antusias untuk terlibat baik saat penelitian, maupun saat implementasi teknologi Wolbachia. Dalam implementasi teknologi Wolbachia di Sleman, WMP Yogyakarta bekerja sama dengan pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kesehatan Sleman dalam menerapkan penggunaan teknologi tersebut di rumah-rumah warga. Oleh karenanya, saat teknologi ini diimplementasikan di daerah lainnya, model kerja sama bisa dieksplorasi dan dikembangkan lebih lanjut, sesuai dengan situasi dan kondisi di masing-masing daerah.