“AKU MELU”: Dukungan Pemerintah dan Masyarakat Bantul terhadap EDP-YogyaPeletakan Perdana Telur Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia Di Kabupaten Bantul

Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Paduka Paku Alam IX secara simbolis meletakkan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di kediaman keluarga Widi Purwanto, warga RT 9, Dusun Jomblangan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Senin, 8 Desember 2014. Peletakan ini menandai dimulainya penelitian penanggulangan demam berdarah dengue (DBD) melalui penyebaran Wolbachia di Dusun Jomblangan dan Singosaren 3, Kecamatan Banguntapan. Penelitian ini dilaksanakan oleh Eliminate Dengue Project Yogyakarta (EDP-Yogya) bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul. Penyebaran Wolbachia di Kabupaten Bantul adalah yang kedua setelah penyebaran Wolbachia di Kabupaten Sleman pada Januari-Juni 2014.

 Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh wakil gubernur  menyambut baik penelitian EDP-Yogya seraya berharap penelitian ini pada akhirnya akan mampu mengurangi angka kejadian demam berdarah di masyarakat. Hal senada diungkapkan oleh dr. Pramudi Darmawan, M.Kes, Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul. “Peletakan telur nyamuk ber-Wolbachia ini bertujuan membantu pemerintah menurunkan angka kesakitan dan kematian DBD. Kami sangat berharap program ini bisa berhasil sehingga bisa membantu menekan angka penaggulangan DBD yang selama ini mencapai rata-rata 1 milyar per tahunnya.”

 Lebih dari 200 tamu undangan mengikuti seremoni peletakan telur nyamuk ber-Wolbachia. Selain wakil gubernur, acara tersebut juga dihadiri diantaranya oleh Ketua Dewan Riset Daerah, Ketua DPRD Propinsi Yogya, Asisten II Bupati Bantul, Danrem 072 Pamungkas dan Kepala Dinas Kesehatan DIY,  Kehadiran mereka adalah wujud dukungan masyarakat serta pemerintah Bantul dan DIY terhadap upaya penanggulangan demam berdarah yang dilakukan oleh EDP-Yogya. Slogan “Aku Melu”[1] adalah lambang kepedulian dan kesediaan untuk bekerja sama, melakukan berbagai upaya penanggulangan demam berdarah. “Kata-kata “Aku Melu” mewakili semangat kita untuk berpartisipasi dalam program penanggulangan demam berdarah yang sudah didorong oleh pemerintah selama ini. Metode Wolbachia hadir bukan untuk menggantikan upaya yang sudah ada selama ini seperti melalui PSN[2]. Namun untuk menyempurnakannya,” terang Prof. dr. Adiutarini, MPH, Ph.D, pimpinan EDP-Yogya.   

 Penyebaran Wolbachia di wilayah Jomblangan dan Singosaren, Kabupaten Bantul ini dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan masyarakat dan dukungan dari pemerintah. Sebelumnya, tokoh-tokoh masyarakat Jomblangan dan Singosaren yang diwakili oleh para ketua RT dan Dukuh setempat telah menandatangani lembar kesepakatan pelaksanaan penelitian bersama peneliti utama EDP-Yogya, dr. Riris Andono Ahmad, MPH, Ph.D.

 

[1] Aku Melu (Bahasa Jawa) artinya Saya Ikut

[2] PSN: Pemberantasan Sarang Nyamuk