Penelitian Ini Harus Berhasil: Audiensi Ketiga EDP-Yogya dengan Gubernur DIY

Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia yang dilepaskan di wilayah Nogotirto dan Kronggahan terbukti mampu berkembang di lingkungan alaminya. Bukti ini terlihat dari pola prosentase Wolbachia yang terus meningkat setelah pelepasan dihentikan pada Juni 2014. Usai penghentian pelepasan nyamuk, salah satu kegiatan yang tetap dilakukan Eliminate Dengue Project Yogyakarta (EDP-Yogya) adalah melakukan pemantauan aktif kasus DBD di wilayah penelitian bekerja sama dengan dinas kesehatan dan puskesmas setempat.

Hal ini terungkap dalam pertemuan ketiga tim peneliti EDP-Yogya dengan Gubernur Yogya di bangsal Wilis, kompleks Kepatihan DIY, Senin 13 April 2015. Dalam kesempatan ini EDP-Yogya juga memaparkan kegiatan penelitian yang sedang berjalan di Kabupaten Bantul. “Sejak akhir tahun 2014, kami telah melakukan penyebaran nyamuk ber-Wolbachia di Jomblangan dan Singosaren. Penyebaran dilakukan dengan meletakkan telur Aedes aegypti ber-Wolbachia. Sampai saat ini telah dilakukan sepuluh kali peletakan telur nyamuk ber-Wolbachia dan prosentasenya sudah mencapai 60%,” terang Adi Utarini, Ketua Tim Peneliti.

“Perkembangan Wolbachia di Kabupaten Bantul lebih stabil karena nyamuk dewasa yang keluar dari ember penetasan langsung beradaptasi dengan lingkungannya,” imbuh Warsito Tantowijoyo, ahli serangga EDP-Yogya.

Gubernur DIY menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan Yayasan Tahija ini adalah salah satu upaya Pemerintah DIY untuk menanggulangi demam berdarah dengue. Sri Sultan menyambut baik hasil penelitian di Kabupaten Sleman dan Bantul seraya mengungkapkan keinginannya supaya penelitian ini pada akhirnya mampu mengurangi angka kejadian DBD. “Angka kejadian demam berdarah di Jogjakarta sangat tinggi. Sementara upaya-upaya pencegahan selama ini seperti PSN belum berjalan efektif. Maka penelitian ini harus berhasil” ungkapnya.