Mengolah Diri
Pelatihan Komunikasi Kreatif Berbasis Seni

Siang itu, lima orang sedang mempraktekan diri untuk menjadi “mesin ketik”. Ada yang menjadi tombol, menjadi kertas dan menjadi putaran kertas. Semua dilakukan hanya dengan gerak tanpa suara. Sementara, para penonton mencoba menebak benda atau pesan yang ditampilkan. Tepukan riuh membahana ketika tebakan mereka berhasil.

Demikian salah satu aktivitas dalam workshop Komunikasi Kreatif Berbasis seni EDP-Yogya yang difasilitasi oleh Padepokan Seni Bagong Kusudiarjo, Yogyakarta pada 6-7 dan 13-14 November 2015. Selama pelatihan sekitar 60 peserta diajak untuk menyadari keistimewaan diri dan menggunakannya untuk mencipta. Misalnya dengan menyampaikan pesan melalui olah tubuh, gerak, tanda maupun suara sehingga orang lain menangkap pesan yang ingin disampaikan.

“Saat ini kemajuan teknologi seringkali justru membatasi manusia. Membuat kita tergantung pada gawai digital. Seolah keberadaan kita ada disitu,” papar Asita, fasilitator pelatihan. Dan selama dua hari pelatihan, peserta ditantang untuk menggali kemampuannya berkarya tanpa bergantung pada benda-benda digital.

“Kami sempat bingung dan akhirnya hanya duduk memandangi papan tulis karena nggak tahu bagaimana membuat rangkaian kata-kata ini menjadi sebuah lagu,” tutur Merry Putri Wijayanti, staf EDP-Yogya. Melalui pelatihan ini diharapkan staf EDP lebih peka dan terampil dalam mengolah hal-hal yang sudah ada pada dirinya dan sumber daya di sekitar untuk menyampaikan pesan penelitian kepada masyarakat.  

“Pelatihan ini membuat saya menyadari potensi yang saya miliki dan melihat kemampuan yang dimiliki orang lain. Semoga kita berkolaborasi untuk memberi yang terbaik kepada orang lain,” ujar Muhammad Tamadji, staf EDP-Yogya di akhir pelatihan.