Didik Nini Thowok Bersedia Dititipi Ember Telur Nyamuk

EDP-Yogya- Demam Berdarah Dengue bukanlah hal yang asing bagi seniman serba bisa ini. Tahun lalu anak laki-lakinya yang berusia sembilan tahun menderita DBD dan sempat dirawat inap selama dua minggu di sebuah rumah sakit di Yogya. Karenanya, legenda seni tari Indonesia dengan nama asli Didik Hadiprayitno ini sangat terbuka dan mendukung penelitian EDP Yogya.

Saat ini rumahnya di bilangan Kricak dipasangi alat perangkap nyamuk (BG Trap) untuk mengetahui populasi nyamuk di lingkungan sekitarnya. Tidak tanggung-tanggung ia juga bersedia untuk menjadi orang tua asuh ember berisi telur nyamuk Ae. Aegypti ber-Wolbachia yang akan dititipkan di sebagian rumah yang terpilih.

“Saya senang sekali dengan penelitian ini, karena tujuannya mulia demi kemanusiaan dan kembali ke alam. Saya pernah punya pengalaman buruk dengan penyakit DBD, anak laki-laki saya terkena parah”, paparnya ketika menerima tim Wolly Mubeng Jogja (WMJ) EDP-Yogya di Sanggar Tari Natya Laksita, Rabu (8/6/2016) lalu.

Selain menyinggung tentang DBD, seniman yang sudah menerima banyak penghargaan atas kiprahnya ini juga bercerita mengenai kepeduliannya terhadap  dokumentasi seni budaya Indonesia yang semakin asing di negeri sendiri. Ia menuturkan misalnya negara-negara tetangga memiliki perhatian lebih besar dalam menyimpan dan mengelola warisan budaya nasional masing-masing. Ia berharap seni bisa dinikmati semua kalangan, termasuk berperan dalam komunikasi kesehatan.

Menyinggung mengenai komunikasi penelitian kepada masyarakat, seniman yang tenar dengan tarian “Panca Muka” ini menyatakan bahwa seni bisa menjadi perantaranya, diantaranya melalui seni gerak atau tari. Sifat luwes dan dinamis seni sangat memungkinkan seni menjangkau semua lapisan masyarakat. Di akhir pertemuan, Didik mengajarkan gerakan “tari nyamuk” kepada sekitar 15 orang  staf dari EDP-Yogya yang dengan antusias menirukan gerak demi gerak.