Warga “Bekerja Bersama” Nyamuk Basmi DBD

Penyakit DBD masih menjadi persoalan kesehatan di Indonesia, termasuk di DIY. Namun, dengan menggunakan metode terbaru dunia yang diperkenalkan sejak 2013 lalu, yakni Wolbachia, diharapkan mampu menekan angka kasus DBD.

Metode Wolbachia di Indonesia dikembangkan oleh Tim Eliminate Dengue Project (EDP) Fakultas Kedokteran UGM. Setelah sukses melepas nyamuk dan telur nyamuk ber-Wolbachia di Kabupaten Sleman dan Bantul, kini giliran Kota Yogyakarta.

“Harus kita sadari, keberadaan ‘pasukan’ nyamuk ini bukan menambah populasi nyamuk sendiri, tapi ini paling tidak mengurangi kasus DBD. Dengan dilepasnya telur-telur nyamuk ber-Wolbachia ini, nanti nyamuk yang menetas akan bekerja sama dengan masyarakat memburu nyamuk aedes,” ujar Dirjen Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati, kemarin.

Dalam Grand Launching Peletakan Perdana Telur Nyamuk ber-Wolbachia di Kota Yogyakarta di Museum Diponegoro Sasana Wiratama Yogyakarta, Dimyati mengatakan, hal paling penting ialah memberikan pemahaman pada masyarakat akan manfaat dari penyebaran telur-telur nyamuk tersebut. Pada kesempatan itu, tim EDP UGM menyebar 1.000 ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia. Setiap ember diperkirakan ada 100 telur.

“Menjadi masalah jika masyarakat tak paham isi ember yang dibawa pulang. Jangan dibayangkan nyamuk menetas berlipat ganda dan semakin sesak dengan nyamuk. Pemahaman yang benar akan kegiatan ini jadi syarat utama menyukseskan inovasi baru mengurangi berkembangnya DBD di Yogyakarta ini,” ujarnya.

Selanjutnya Dimyati berharap ke depan bukan hanya DBD yang bisa dikomodifikasikan, tapi juga penyakit lain. Menurutnya, hal tersebut menjadi tantangan bagi peneliti dan guru besar lainnya membuktikan diri.

“Riset ini juga diharapkan bisa menjadi inovasi yang mutakhir. Upaya selanjutnya bisa diintensifkan tak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tapi juga jadi bagian percepatan ke depannya,” katanya.

Dalam kesempatan sama, Wakil Gubernur DIY Paku Alam X yang membacakan sambutan dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, pemerintah daerah mengapresiasi program tersebut sebagai solusi mengatasi persoalan DBD yang menurutnya memerlukan penanganan seriuis.

“Saya menyambut baik dan memberikan dukungan sepenuhnya atas terlaksananya pengembangan inovasi tekhnologi pengendalian DBD melalui nyamuk aedes aegypti ber-Wolbachia ini. Saya berharap program ini bisa didukung sepenuh hati dan secara sinergis oleh seluruh komponen masyarakat demi berkurangnya atau bahkan hilangnya penyebaran penyakit DBD di lingkungan sekitar kita,” ujarnya.

Rencananya program penyebaran telur nyamuk ber-Wolbachia di Kota Yogyakarta akan dilakukan sejak Agustus 2016 hingga pertengahan 2017. Telur-telur dalam ember itu bertahap akan dititipkan di sebagian rumah warga Kota Yogyakarta yang terpilih dan bersedia.

“Harapannya dalam kurun waktu tertentu, nyamuk ber-Wolbachia akan kawin dengan nyamuk setempat dan menghasilkan keturunan ber-Wolbachia yang menghambat penularan DBD ke manusia,” ungkap Ketua Peneliti EDP Yogyakarta Prof Adi Utarini.

Nyamuk aedes aegypti ber-Wolbachia merupakan hasil dari penelitian yang dikerjakan EDP Yogyakarta, Fakultas Kedokteran UGM, dengan pendanaan dari Yayasan Tahija Indonesia. Nyamuk ini mampu menekan pengembangbiakan virus DBD.

Sebelumnya EDP telah menyebarkan nyamuk ber-Wolbachia di Kabupaten Sleman dan Bantul, meski dengan metode berbeda. Di Sleman, EDP menyebarkan nyamuk yang telah dewasa dan siap berkembang biak. Selanjutya di wilayah Bantul, EDP menggunakan telur nyamuk dengan siklus pergantian air 12 kali yang dilakukan setiap 2 minggu.

“Dalam beberapa bulan mendatang, diperkirakan populasi nyamuk ber-Wolbachia bisa mencapai 60%. Penelitian Wolbachia ini nanti juga diharapkan bisa terus dikembangkan menjadi solusi bagi penyakit chikungunya dan zika yang juga dibawa oleh nyamuk aedes aegypti,” kata Adi.