DEMAM BERDARAH

Riset Wolbachia Dilanjutkan

JAKARTA, KOMPAS – Hasil analisis risiko pada riset nyamuk Aedes aegypti yang diberi bakteri wolbachia untuk mengatasi demam berdarah dengue menunjukkan, riset aman dan bisa dilanjutkan. Untuk itu, riset dilanjutkan ke fase pembuktian efektivitas teknologi demi menekan kasus penyakit itu.

“Wolbachia ada di 70 persen dari serangga-serangga yang pernah diteliti di berbagai negara. Jadi, wolbachia aman,” ucap Prof Damayanti Buchori, ketua tim kajian analisis resiko yang juga pakar ekologi Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor, Jumat (2/9), di Jakarta. Di Tiongkok, bakteri wolbachia untuk mengendalikan hama wereng coklat dan lalat buah.

Tim Peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sejak 2011, riset penyebaran nyamuk A aegypti yang diberi bakteri wolbachia, dengan pendanaan Yayasan Tahija Indonesia, lewat program Eliminate Dengue Project (EDP). Jadi, nyamuk A aegypti yang diberi bakteri wolbachia disebarkan agar kawin dengan A aegypti alami. Wolbachia ampuh untuk melumpuhkan virus dengue dan menekan populasi nyamuk itu.

Tim kajian analisis risiko terdiri dari 25 anggota independen, termasuk sejumlah pakar dari 4 universitas, yang dipilih Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Kementrian Kesehatan, dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Tim mengkaji 53 kriteria, dikelompokkan jadi 4 potensi dampak. Jika nyamuk ber-wolbachia dilepaskan, dampak ekologi nyamuk, manajemen efikasi teknologi pada nyamuk, dan kesehatan masyarakat, bisa diabaikan. Potensi dampak sosial, ekonomi, dan budaya berisiko rendah.

Peneliti utama EDP dari FK UGM, Prof Adi Utarini, menyatakan, hasil analisis risiko itu jadi dasar tim melanjutkan riset ke fase ketiga untuk mengetahui besaran penurunan kasus DBD lewat pelepasan nyamuk ber-wolbachia di Kota Yogyakarta. Fase ketiga berakhir 2019.