Wolly Membaur di Kirab Budaya Kricak Lor Negoro

Wolly-nama popular dari nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia - tak asing lagi bagi warga Kelurahan Kricak. “Oh… itu nyamuk yang dikawinkan itu ya?” celetuk beberapa warga yang menyaksikan maskot Wolly dengan armada Pitpaganda di arena Kirab Budaya Kricak Lor Negoro, Minggu (30/10).

Kirab ini sebagai penanda dinobatkannya Kelurahan Kricak sebagai Kelurahan Budaya dan Wisata. Penobatan disaksikan oleh Walikota Yogyakarta, Haryadi Suyuti beberapa waktu yang lalu. EDP-Yogya telah dianggap sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat di wilayah tersebut diajak serta untuk menyemarakkan kirab.

Dimulai dari Kantor KPU Kota Yogyakarta, kirab menempuh tak kurang dari tiga kilometer perjalanan menuju Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah RW 1. Kepak sayap Wolly bermotif batik melengkapi kirab yang melibatkan beberapa unsur setempat seperti bergodo Kricak (tentara tradisional), Dimas Diajeng Kricak, kesenian jathilan dan lain sebagainya.

 Ket foto: Wolly melintas di depan Kantor Kelurahan Kricak pada Kirab Budaya Kricak Lor Negoro

Kelurahan Kricak merupakan satu dari tujuh kelurahan yang menjadi wilayah peletakan telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di tahap pertama. Hingga kini peletakan telur telah memasuki daur keenam sejak 15 Agustus 2016. EDP-Yogya meletakkan ember berisi telur nyamuk aman ini di setidaknya 293 titik pelepasan yang tersebar di rumah-rumah warga setempat. 

Baca: Kricak, Kelurahan Pertama untuk Disebari Nyamuk Anti DBD di Kota Yogya

EDP-Yogya sangat mendukung pagelaran budaya seperti ini. Selain senafas dengan tekad memasyaratkan penelitian menggunakan maskot yang sarat kearifan lokal, yaitu batik yang menjadi ornamen sayap Wolly , juga untuk mendekatkan penelitian dengan masyarakat melalui cara-cara yang menyenangkan dan mudah diterima warga.

Baca: Nyamuk ber-Wolbachia, Nyamuk yang Berbudaya