Ngangsu Kawruh Mengelola Uwuh

EDP-Yogya – Salah satu unsur penting dalam upaya pengendalian demam berdarah adalah kader kesehatan yang berhubungan secara langsung dengan masyarakat. Tak hanya memantau jentik,  kader kerap menjadi rujukan warga dalam semua hal yang berkaitan dengan kesehatan.

Sejak pelepasan pertama di wilayah Sleman di 2014 lalu, EDP-Yogya sudah melibatkan kader kesehatan untuk terlibat dalam penelitian. Untuk itu, Rabu, 9 November 2016, EDP-Yogya mengajak kader kesehatan Dusun Karangtengah dan Ponowaren, Desa Nogotirto mengunjungi Bank Sampah “Gemah Ripah” Bantul. Tujuannya untuk belajar mengenai pengelolaan sampah, termasuk sampah rumah tangga.  Kegiatan serupa pernah dilakukan sebulan yang lalu bersama kader kesehatan Dusun Kronggahan 1 dan 2 Desa Trihanggo. “(kegiatan) ini pengganti pertemuan bulanan,” jelas Rindi, staf EDP-Yogya yang memimpin kunjungan. EDP-Yogya selama ini rutin melakukan pertemuan dengan kader di Sleman dan Bantul untuk kordinasi rutin.

Tak salah EDP-Yogya memilih Bank Sampah “Gemah Ripah” Bantul sebagai tempat “ngangsu kawruh” (menuntut ilmu). Predikat sebagai bank sampah pertama di Indonesia pernah disandangnya. Penggagasnya adalah Bambang Suwerda, dosen pada sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. “Bank sampah pertama di Indonesia ini ya di Bantul,” ungkapnya pada sebuah kesempatan di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul.

Baca juga: Mengubah Sampah Menjadi Berkah

Semangat berbagi ilmu terasa ketika Nur Sahid, salah seorang sesepuh bank sampah menjelaskan mekanisme pengelolaan sampah yang ia jalankan. “Jika ibu-ibu membuang sampah pada tempatnya, itu hanya memindahkan masalah. Dengan bank sampah ini kami mencoba menyelesaikan masalah,” terangnya penuh semangat. Selain itu, para kader juga belajar ketrampilan mengolah sampah menjadi aneka barang yang bermanfaat seperti tas belanja, bros, tempat tisu, dan lain-lain.

Kunjungan seperti ini dinilai sangat bermanfaat. “saya ingin meniru di tempat saya,” terang Siti Kustilah, salah seorang kader senior dari RT 9 Karangtengah. Wanita yang telah 31 tahun mengabdikan diri sebagai kader ini terlihat begitu antusias mendengar dan bertanya. Hingga akhir acara ia masih tekun membuat tempat alat tulis berbahan bungkus kopi instan. Ia bertekad membagikan ilmu yang ia dapat kepada tetangganya.

Ket. gambar: Kader kesehatan belajar membuat kerajinan dari bahan bekas pakai

Melalui kunjungan seperti ini, EDP-Yogya berharap memberikan manfaat lebih kepada masyarakat di wilayah penelitian. Hal ini dilakukan sebagai imbal balik atas dukungan penuh masyarakat terhadap penelitian yang dilakukan di wilayah mereka.