Wolly Mubeng Jogja, Pendidikan Alam dari Pinggir Sungai Gajahwong

EDP-Yogya - Gemercik air Kali Gajahwong lirih terdengar pagi itu. Suaranya kalah oleh riuhnya kerumunan bocah yang berangkat sekolah. Beberapa diantar langsung orang tuanya hingga ke dalam ruangan. Di luar beberapa ibu masih terlibat obrolan ringan membicarakan rencana trip putra-putrinya. “besok Wikan dibawain topi ya bu,” pesan seorang guru kepada salah seorang wali murid.

Rutinitas serupa terjadi tiap pagi di Sekolah Alam Gajahwong, sekolah yang dibangun oleh Team Advokasi Arus Bawah (TAABAH) di Ledok Gajahwong, Kelurahan Muja Muju Kecamatan Umbulharjo Kota Yogyakarta. Mayoritas warga sekitar berprofesi sebagai pemulung. Anak-anak mereka kurang mendapatkan pendidikan yang ideal. Fakta inilah yang mendorong didirikannya Sekolah Gajahwong secara swadaya. Di tahun ketujuh ini Sekolah Gajahwong telah memiliki siswa sebanyak 52 dengan 11 pengajar yang sebagiannya adalah relawan.

Baca juga: Sekolah, Tempat Potensial untuk Penularan DBD

Awal pekan keempat di Bulan November, EDP-Yogya mendapat kesempatan untuk mengisi materi muatan khusus, bagian dari kurikulum di sekolah ini dengan  mendongeng. “kita kemas menjadi dongeng, agar anak-anak makin tertarik mengetahui tentang nyamuk” jelas Equatori Prabowo, staf EDP-Yogya yang memimpin kunjungan Wolly Mubeng Jogja.

Belasan staf EDP-Yogya mengenakan kostum hijau pupus berbaur dengan siswa dan siswi Sekolah Gajahwong yang mengenakan kaos berwarna kuning. Semua larut dalam gerak dan lagu. “tanam satu pohon pohon pohon,” ujar Faiz Fakhruddin, Koordinator Sekolah Gajahwong, yang memimpin sesi pagi itu.

Ket. gambar: Staf EDP-Yogya bermain bersama siswa Sekolah Gajahwong

Selang beberapa saat, masuklah dua staf EDP-Yogya mengenakan dua kostum nyamuk berbeda. Satu berwarna hijau, sedangkan lainnya berwarna hitam. Ruangan bergemuruh seketika. Bak penggemar berjumpa idolanya, semua berteriak girang. Dua nyamuk beda warna itu berlari kecil, melayang mengelilingi ruangan.

Dongengpun dimulai. Nyamuk warna hijau berperan sebagai nyamuk Aedes aegypti berWolbachia, sedangkan yang berwarna hitam sebagai nyamuk Aedes aegypti tanpa Wolbachia. Keduanya memeragakan proses penularan DBD  dan cara kerja Wolbachia dalam mengendalikannya. Tak ketinggalan, ciri-ciri nyamuk dan gejala DBD menjadi materi dongeng.

Ket. gambar: Wolly menarik perhatian siswa Sekolah Gajahwong

Di penghujung kunjungan, EDP-Yogya menyerahkan kenang-kenangan untuk sekolah. “Terima kasih Sekolah Gajahwong, kami mendapat banyak ilmu pagi ini. Kami tunggu kunjungan baliknya di insektarium kami,” pungkas Bekti Andari, Koordinator Komunikasi dan Penyertaan Masyarakat EDP-Yogya seraya berpamitan.