Libur Tahun Baru, Peletakan Telur Tidak Libur

EDP-Yogya – Pagi itu Insektarium, laboratorium pengembangbiakan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia, tidak seramai hari-hari biasanya. Sejatinya pekan terakhir di penghujung tahun merupakan hari libur untuk memperingati natal dan tahun baru. Namun beberapa staf tetap beraktivitas secara bergantian untuk melaksanakan tugas yang tidak memungkinkan untuk diliburkan.

Di sebuah ruangan yang cukup luas nampak beberapa staf tengah bersiap. “Hari ini kita kejatah 55 rumah mbak,” pesan Bambang Nugroho kepada rekannya, Noor Cholifah, sambil menunjukkan peta yang akan mereka bawa ke Kelurahan Tegalrejo. Pagi ini mereka bertugas mengganti telur di ember yang telah dititipkan di rumah warga terpilih. Penggantian telur tidak bisa libur karena akan menghambat perkembangan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia di wilayah penelitian.

Ket. gambar: Staf EDP-Yogya tengah bersiap sebelum berangkat ke wilayah penelitian

Di ruangan lain nampak Budi Arianto tengah melakukan bloodfeeding, memberi makan nyamuk dengan darah manusia. Dua kakinya bersandar pada dua kotak (baca: kandang nyamuk) berwarna putih. Siapa yang menyangka di dalam kotak itu terdapat setidaknya 600 ekor nyamuk Aedes aegypti. Sebagian nyamuk itu tengah menghisap darah Budi melalui lobang yang hanya ditutup kain strimin.  

“Karena peletakan telur tidak libur, ya nyamuk-nyamuknya gak boleh puasa biar tetap bisa bertelur,” candanya sambil melihat penanda waktu di telepon genggamnya. Setidaknya selama 15 menit ia harus merelakan darahnya dihisap nyamuk-nyamuk betina di dalam kotak itu. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa dari tiap kotak bisa dipanen 12 ribu telur nyamuk. Untuk memperlancar penitipan ember telur di wilayah penelitian ia setidaknya membutuhkan 20 ribu butir telur tiap harniya.

Tepat tengah hari dua staf berboncengan memasuki parkiran. Heru Sulistyo dan Sularto nampak berkeringat sepulang tugas lapangan. Mereka hanya segelintir dari staf EDP-Yogya yang merelakan hari liburnya diganti di hari lain yang lebih memungkinkan. Dedikasi mereka sangat berarti dalam penelitian ini. Sebuah penelitian yang diharapkan menghasilkan metode alternatif penanggulangan DBD di Indonesia, bahkan dunia.