Sultan HB X Rasakan Gigitan Nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengunjungi fasilitas penelitian nyamuk Aedes aegypty ber-Wolbachia. Dia mendukung riset tersebut agar jumlah penderita demam berdarah dengue (DBD) turun di Yogyakarta.

Di lokasi Penelitian Pengembangan Nyamuk Aedes Aegypti ber-Wolbachia, Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM), di Sekip N/14, Bulaksumur, Yogyakarta, Selasa (14/2/2017) Sultan menengok langsung ribuan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia yang dikembangbiakkan di laboratorium tersebut. Sultan juga menyaksikan proses pemberian pakan nyamuk dengan darah manusia. Lengan si pendonor yang dimasukkan dalam sebuah tabung untuk digigit nyamuk secara bergantian.

Sultan juga merasakan gigitan nyamuk di laboratorium tersebut. Dia menempelkan tangan kiri bagian bawah ke kandang nyamuk yang berisi sekitar 150 nyamuk yang separuhnya betina. Sekitar lima menit, Sultan rela tangannya digigit nyamuk. Dengan cara itu, nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia mendapat makan.

"Kok ora krasa ya dicokot nyamuk (kok tidak terasa digigit nyamuk)?" ujar Sultan saat tangannya mulai digigit nyamuk.

Bakteri Wolbachia dapat menekan perkembangbiakan virus dengue. Bakteri ini bisa melawan virus saat merebut makanan di sel tubuh nyamuk. Wolbachia juga diketahui tidak bisa ditularkan ke manusia oleh nyamuk.

Sultan HB X Rasakan Gigitan Nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia(Bagus Kurniawan/detikcom)



Sultan juga melihat contoh nyamuk untuk dilihat di mikroskop yaitu nyamuk Culex, Ae. Albopictus, Ae. Aegypty, serta melihat perbedaan nyamuk jantan dan nyamuk betina. Dalam diskusi dengan pimpinan UGM dan peneliti Eliminate Dengue Project (EDP), Sultan mendukung proyek penelitian tersebut. Dia berharap riset ini tidak sebatas hanya melaksanakan proyek semata, namun bisa berlangsung secara terus menerus untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas.

"Harus berjalan terus. Kalau berhenti, maka kasus DBD (Demam Berdarah Dengue) akan tumbuh lagi," katanya.

Menurut Sultan, hal yang perlu dipertimbngakan karena bisa saja dalam generasi ketujuh atau F7 turunan dari nyamuk ber-Wolbachia tersebut akan kembali menjadi nyamuk normal yang tidak lagi mengandung bakteri Wolbachia sehingga tidak mampu membunuh virus dengue.

"Kita tidak tahu, nyamuk ini nantinya terus berubah atau tidak," ungkapnya.

Sultan juga meminta UGM untuk mengembangkan penelitian di bidang ilmu kedokteran tropis untuk bisa menghasilkn obat-obatan yang berasal dari negara tropis. Sebab selama ini masyarakat sudah bergantung pada produk obat-obatan dari luar yang menurutnya belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat tropis.

"Saya mohon laboratorium penyakit tropis ini lebih diprioritaskan," pinta Sultan.

Peneliti Utama EDP-Yogyakarta, Prof Adi Utarini menjelaskan, saat ini EDP-Yogya tengah memasuki fase ke-3 penelitian yang bertujuan untuk membuktikan dampak Wolbachia pada penurunan kasus dengue. Tahap ini direncanakan akan dilakukan hingga tahun 2019.

"Harapannya tiga tahun setelah 2019, kami dapat bekerja sama dengan Pemda untuk memperluas penelitian di DIY. Saat ini telah dilakukan serangkaian diskusi untuk rencana penyusunan roadmap perluasan riset di DIY setelah 2019," papar Adi Utarini.

Menurut dia untuk dapat membuktikan Wolbachia berdampak pada penurunan kasus DBD, EDP-Yogyakarta memerlukan dua wilayah. Satu wilayah yang akan disebari Wolbachia, sedangkan wilayah lainnya sebagai pembanding. Kedua wilayah tersebut mempunyai peran yang sama penting untuk membuktikan apakah penurunan kasus demam berdarah di satu wilayah terjadi karena efek Wolbachia atau karena kebetulan di waktu tersebut kasus DBD sedang rendah.

Sultan HB X Rasakan Gigitan Nyamuk Aedes Aegypti Ber-Wolbachia(Bagus Kurniawan/detikcom)



Dia mengatakan proses pengacakan dilakukan EDP-Yogya secara terbuka, transparan dihadapan tokoh masyarakat dan warga dari 35 kelurahan di Kota Yogyakarta dan dua desa di Kabupaten Bantul. Dari wilayah tersebut kemudian dibagi menjadi 24 klaster dimana 12 klaster akan dititipi ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dan 12 klaster sebagai pembanding.

Pembagian 24 klaster tersebut untuk dapat menggambarkan Kota Yogyakarta yang bervariasi baik dari segi kepadatan penduduk, lingkungan, jumlah kasus demam berdarah, kelompok umur dan lain sebagainya.

Adapun 12 klaster yang akan dititipi ember telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia meliputi sebagian wilayah di Kelurahan Cokrodiningratan, Gowongan, Terban, Demangan, Klitren, Ngampilan, Ngupasan, Pringgokusuman, Sosromenduran, Purwokinanti, Suryatmajan, Tegalpanggung, Baciro, Semaki, Mujamuju, Gedongkiwo, Kadipaten, Notoprajan, Patehan, Gunungketur, Pandeyan, Sorosutan, Tahunan, Wirogunan, Warungboto, dan Desa Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Bantul.