Sultan HB X Relakan Tangannya Jadi Makanan Nyamuk "Aedes aegypti"

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X merelakan tangannya untuk menjadi makanan nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia.

Hal itu dilakukan Sultan saat mengunjungi fasilitas penelitian nyamuk ber-wolbachia di Laboraturium Insektrum Sekip N-14, Kampus UGM.

Demikian rilis Humas UGM, Selasa (14/2/2017).

Di dalam kunjungannya, Sri Sultan menengok langsung ribuan nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia yang dikembangbiakkan di laboratorium tersebut.

Sri Sultan juga menyaksikan proses pemberian pakan nyamuk dengan darah manusia, yakni lengan si donor yang dimasukkan dalam sebuah tabung untuk digigit nyamuk secara bergantian.

Nyamuk yang sudah mengandung bakteri wolbachia mampu menekan replikasi virus DBD sehingga mengurangi penularan penyakit tersebut.

nyamuk yang sudah mengandung wolbachia mampu menekan replikasi virus DBD sehingga mengurangi penularan. - See more at: http://www.eliminatedengue.com/Yogyakarta/berita/article/765#sthash.u6CaeXGf.dpuf
nyamuk yang sudah mengandung wolbachia mampu menekan replikasi virus DBD sehingga mengurangi penularan. - See more at: http://www.eliminatedengue.com/Yogyakarta/berita/article/765#sthash.u6CaeXGf.dpuf

Sementara itu, dalam diskusi dengan pimpinan UGM dan peneliti Eliminate Dengue Project (EDP), Sri Sultan menyatakan dukungannya terhadap penelitian tersebut.

"Harus berjalan terus demi kepentingan masyarakat yang lebih luas," ujar Gubernur DIY Sri Sultan HB X dalam pers rilis Humas UGM.

Sultan meminta riset nyamuk ber-wolbachia tidak hanya sebatas melaksanakan proyek, tetapi harus berlangsung terus-menerus. Sebab, jika berhenti, kasus DBD (demam berdarah dengue) akan tumbuh.

"Kalau berhenti, maka kasus DBD akan tumbuh lagi," ucapnya.

Menurut Sultan, riset harus terus dikembangkan dan perlu dilihat pula apakah turunan dari nyamuk ber-wolbachia tersebut akan kembali menjadi nyamuk normal. Karena setelah menjadi nyamuk normal, tidak lagi mengandung bakteri wolbachia sehingga tidak mampu membunuh virus dengue.

"Kita tidak tahu, nyamuk ini nantinya terus berubah atau tidak," sebutnya.

Sultan juga meminta UGM untuk mengembangkan penelitian di bidang ilmu kedokteran tropis untuk bisa menghasilkan obat-obatan yang berasal dari negara tropis. Pasalnya, selama ini masyarakat sudah bergantung pada produk obat-obatan dari luar yang menurutnya belum tentu sesuai dengan kondisi masyarakat tropis.

"Saya mohon laboratorium penyakit tropis ini lebih diprioritaskan," tegasnya.

Guna mewujudkan pengembangan laboratorium kedokteran tropis tersebut, Sultan menyebutkan, UGM bisa menggandeng pemerintah Provinsi DIY dengan bekerja sama dengan yayasan donor dari luar atau dengan negara luar yang tingkat penelitiannya sudah lebih maju.

Adapun Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Suratman mengatakan, penelitian nyamuk yang mengandung bakteri wolbachia bertujuan untuk mengurangi penyakit demam berdarah dengue.

Penelitian itu, menurut dia, merupakan yang satu-satunya di Indonesia. Hasil produk risetnya pun sudah diaplikasikan di wilayah DIY.

"Komitmen UGM, riset inovasi ini bukan semata-mata memenuhi selera peneliti, tapi untuk kepentingan bangsa," ujar dia.