WHO: Nyamuk Berwolbachia Teknologi Masa Depan

Setelah beberapa waktu lalu Melinda Gates mengunjungi insektarium Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya, kini gantian Direktur The Special Programme for Research and Training in Tropical Desease  (WHO/TDR), John C Reeder, kunjungi insektarium EDP Yogya, Senin (3/4) petang.

John merupakan direktur WHO/TDR yang memfokuskan programnya pada penelitian dan pelatihan terkait penyakit tropis.

Berdasar rilis yang dibagikan pada awak media, Selasa (4/4), EDP Yogya dikunjungi karena tengah melakukan penelitian pengendalian demam berdarah dengue (DBD) menggunakan teknologi inovatif.

Teknologi tersebut dinyatakan WHO sebagai salah satu teknologi pengendalian vector yang potensial diterapkan di masa mendatang, setelah melalui proses penelitian dan monitoring yang ketat.

Untuk diketahui, EDP Yogya adalah kegiatan penelitian  pengendalian demam berdarah dengue (DBD) yang dilaksanakan oleh Pusat Kedokteran Tropis, Fakultas Kedokteran UGM dan didanai oleh Yayasan Tahija. Penelitian yang dimulai sejak 2011 ini berfokus pada bakteri alami Wolbachia yang dapat menghambat perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti. Di insektarium yang menjadi dapurnya EDP Yogya ini John menerima penjelasan tentang tata laksana penelitian ini.

Penjelasan itu semakin lengkap, disertai dengan tinjauan langsung untuk melihat bagaimana persiapan yang dilakukan sebelum tim EDP Yogya menitipkan ember berisi telur nyamuk Aedes aegypti. Proses yang dilakukan EDP Yogya pascapelepasan Wolbachia juga tak luput dari pengamatan John.

“Saya yakin, bukan pekerjaan mudah untuk menjalankan penelitian ini di masyarakat,” ungkap John saat menerima pemaparan tentang strategi EDP Yogya dalam mengenalkan penelitian ke masyarakat.

Tahun lalu, Kelompok Penasehat Kontrol Vektor Organisasi Kesehatan Dunia (VCAG WHO) merekomendasikan metode pengendalian menggunakan bakteri Wolbachia sebagai alternative pengendali DBD.

“Bahkan WHO telah merekomendasikan pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dalam skala besar di Brazil untuk menekan penularan virus Zika,”tutur Prof. Adi Utarini, peneliti utama EDP Yogya yang mendampingi John petang itu.

Adapun kunjungan kali ini adalah rangkaian kunjungan seharinya di Fakultas Kedokteran UGM. Sejak tahun 2015 FK UGM telah ditunjuk oleh WHO/TDR sebagai salah satu dari tujuh universitas di dunia yang mengelola beasiswa pascasarjana WHO/TDR dalam bidang riset implementasi.

Sebelumnya, sejak tahun 2010, Pusat Kedokteran Tropis FK UGM juga telah ditunjuk sebagai salah satu dari enam Regional Training Center (RTC) yang didukung oleh WHO/TDR untuk meningkatkan kapasitas penelitian kesehatan di wilayah Asia Tenggara. (sis)