Ember-Wolbachia Tidak Masuk Hitungan Angka Bebas Jentik 

EDP-Yogya—“Jentik nyamuk yang berasal dari ember ber-Wolbachia tidak masuk dalam hitungan Angka Bebas jentik (ABJ)”, ujar Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), drg. Yudiria Amelia, kepada seluruh Kepala Puskesmas se-Kota Yogya di sela Rapat Evaluasi Program Pengendalian DBD dan Sosialisasi Penelitian EDP Yogya di University Club UGM Kamis (27/04) siang. 

ABJ saat ini masih menjadi salah satu tolok ukur bagi keberhasilan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) untuk penanggulangan DBD melalui kontrol vektor (hewan pembawa penyakit).  Pemeriksaan jentik-jentik nyamuk ini biasanya dilakukan oleh Jumantik (Juru Pemantau Jentik) yang ada di tiap kelurahan. Setiap seminggu sekali mereka akan berkeliling ke rumah warga untuk memantau tempat perkembangbiakan nyamuk.  Bahkan, mulai tahun 2017, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta mencanangkan program “1 Rumah 1 Jumantik” untuk membebaskan rumah-rumah warga dari jentik nyamuk.

“Jangan hitung jentik-jentik untuk rumah yang ada ember ber-Wolbachia-nya. Masih ada tempat lain yang bisa menjadi berkembangbiaknya jentik (selain di ember ber-Wolbachia),” tambah Yudiria. Himbauan Yudiria sangat beralasan, pasalnya, sejak ember-ember ber-Wolbachia dititipkan di Kota Yogyakarta sejak pertengahan Agustus 2016 lalu, sebagian warga diajak untuk menjadi “orang tua asuh telur nyamuk”. Telur-telur ini nantinya akan berkembang menjadi jentik hingga ke nyamuk dewasa yang siap mengamankan Kota Yogya dari bahaya DBD.  Pengecualian ember ber-Wolbachia dalam ABJ menjadi salah satu butir kesepakatan antara EDP-Yogya dengan Dinas Kesehatan Kota.

drg. Yudiria Amelia, Kepala Bidang P2PL Dinkes Kota Yogyakarta tengah memberikan sambutan.

Pada kesempatan tersebut, dr. Citra Indriani, Kordinator Surveilans EDP-Yogya memaparkan data dari pelepasan ember nyamuk ber-Wolbachia yang dilakukan di Kota Yogyakarta. Ia menegaskan wilayah yang dilepasi ember nyamuk ber-Wolbachia maupun wilayah pembanding memiliki peran yang sama besarnya untuk penelitian pengendalian DBD ini. dr. Citra berharap pengendalian DBD dengan metode Wolbachia kedepannya mampu menunjukkan hasil positif dan dapat diaplikasikan oleh Dinas Kesehatan.