Olah Roso Bersama Paseduluran Jemparingan Langenastro

EDP Yogya – Halaman kosong di timur Alun-alun Selatan Yogyakarta itu sehari-hari menjadi tempat parkir kendaraan wisata yang tiap malam mangkal di Alun-alun Selatan. Sebagian sisinya dibiarkan kosong ditumbuhi rumput setinggi mata kaki. Di ujung lahan kosong itu terdapat dua benda tergantung berwarna putih dengan sedikit warna merah di bagian ujungnya. “Itu namanya bandhulan,” jelas Hafiz Priyotomo, Sekretaris Paseduluran Jemparingan Langenastro (PJL) saat Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya berkunjung dalam gelaran Wolly Mubeng Jogja (WMJ) Jumat, 19 Mei 2017.

Ket. gambar: Hafiz Priyotomo bercerita tentang budaya Jemparingan kepada staf EDP Yogya.

Olah raga memanah tradisional dengan bandhulan sebagai sasaran tembak ini memang sedang naik daun. Beberapa kali olah raga memanah dengan posisi duduk ini menghiasi pemberitaan media. Namun bukan itu yang menjadikan EDP Yogya mengunjungi komunitas PJL. “kami sangat menghargai komunitas yang punya komitmen tinggi melestarikan budaya tradisional,” jelas Sylva Haryosaputro, staf EDP Yogya yang memimpin WMJ sore itu. Tak hanya belajar memanah, ia dan rekan-rekannya juga menyampaikan sosialisasi tentang metode Wolbachia kepada anggota PJL yang menyatakan siap membantu menyebarkan informasi tentang penelitian pengendalian DBD ini.

Baca juga: Mencari Surga ala Relawan Tanggap Bencana

Jemparingan adalah olahraga yang sarat akan nilai. Setidaknya terdapat tiga hal yang ditekankan oleh Kakung Dono, Bagian Pendidikan PJL. “Olah rogo (olah raga), olah roso (olah jiwa) dan budaya,” jelas pria yang dianggap sebagai sesepuh PJL ini. Ia merasa bangga menjadi anggota komunitas yang tak hanya diikuti oleh warga setempat namun juga mancanegara ini. Ia menjelaskan ada orang Kolombia dan sekeluarga dari Spanyol yang rutin njemparing (melakukan olah raga jemparingan) di PJL.

Ket. gambar: Staf EDP Yogya belajar njemparing bersama Paguyuban Jemparingan Langenastro Jumat (19/5)

Sore beranjak gelap. Beberapa staf EDP Yogya yang mengenakan kaos berwarna hijau pupus itu masih terlihat serius berlatih njemparing dengan bimbingan Kakung Dono. Beberapa menyatakan tekadnya untuk datang lagi dan berlatih sesuai jadwal yang telah disusun oleh PJL bagi pemula. Tak sekedar menyenangkan diri, tekad untuk melestarikan olah raga tradisional yang juga digemari oleh Paku Alam VIII ini menjadi semangat untuk datang lagi ke Paseduluran Jemparingan Langenastro.