Wolbachia, Teknologi Menjanjikan Kendalikan DBD

EDP Yogya - Demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman di dunia khususnya di negara-negara tropis. Pada Maret 2016 Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengadakan Vector Control Advisory Group (VCAG) untuk meninjau pilihan program pengendalian nyamuk sebagai tanggapan terhadap penyakit Zika.  Pertemuan ini menghasilkan rekomendasi penyebaran metode Wolbachia. Hasil pertemuan ini merupakan kabar baik bagi Eliminate Dengue Project (EDP) Yogya mengingat DBD dan Zika dibawa oleh pembawa (vector) yang sama, nyamuk Aedes aegypti.

Teknologi Wolbachia telah diakui secara laboratoris dapat menghambat perkembangan virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti. Namun untuk membuktikan efektivitasnya mengendalikan DBD diperlukan uji pelepasan pada wilayah teracak (randomized control trial). Hal tersebut disyaratkan oleh WHO sebelum teknologi Wolbachia diaplikasikan menjadi kebijakan.

Warsito Tantowijoyo, ahli serangga EDP Yogya merasa optimis dapat memenuhi syarat dari WHO. “Kami telah setidaknya meletakkan 7.000 ember di Kota Yogyakarta dalam dua tahap,” jelas Warsito saat menjelaskan fase penelitian yang dilaksanakannya untuk memenuhi syarat WHO. Dukungan masyarakat Yogyakarta dan pendanaan dari Yayasan Tahija lah yang membuatnya optimis dapat menyelesaikan fase pelepasan tahap lanjut ini di tahun 2019.

Lebih lanjut ahli serangga ini mengungkapkan beberapa alasan yang menurutnya membuat teknologi ini menjanjikan. Pertama, Wolbachia  aman. “Isu keamanan sering menjadi perhatian masyarakat saat kami sosialisasi namun berhasil kami jawab,” jelas Warsito. Ia menjelaskan fakta keamanan Wolbachia berhasil meyakinkan warga.

Ket. gambar: Warsito Tantowijoyo menjelaskan ember tempat penitipan telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia kepada Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

Kedua, teknologi Wolbachia berkesinambungan dan dapat diterapkan pada lingkungan dan kondisi apapun. EDP Yogya telah membuktikannya pada pelepasan Wolbachia di Sleman dan Bantul. Ketiga, tingginya kemampuan Wolbachia menekan perkembangan virus dengue di tubuh nyamuk Aedes aegypti. Fakta ini telah dibuktikan di laboratorium melalui uji-uji yang telah dilakukan. Keempat, dapat diintegrasikan dengan metode pengendalian DBD lainnya. Warsito berharap hal ini dapat mempermudah pemerintah menjalankan metode ini ketika nanti telah menjadi kebijakan.

“Kami sangat berterima kasih pada masyarakat Yogyakarta yang telah mendukung penelitian kami,” ucap Warsito. Ia berharap dapat berkontribusi dalam upaya mengendalikan DBD yang senantiasa menjadi ancaman di Indonesia sebagai negara kedua tertinggi kasus DBD setelah Brasil.