Kemampuan Wolbachia menahan virus DBD terus dipantau

EDP Yogya – Setiap kali beraktivitas di suatu wilayah, EDP Yogya selalu mengawali dengan sosialisasi yang melibatkan warga setempat. Warga diberi kesempatan seluas-luasnya untuk bertanya dan berpendapat. Diharapkan warga tidak sekedar paham, namun secara sadar mau terlibat dalam penelitian. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah Wolbachia akan tetap mempunyai kemampuan yang sama pada keturunan berikutnya?

Penelitian di laboratorium membuktikan  bahwa bakteri Wolbachia mampu menghambat virus dengue di tubuh nyamuk Aedes aegypti. Kesimpulan ini didapat melalui sebuah uji yang disebut vector competence test atau uji untuk membuktikan pengaruh Wolbachia pada Ae. aegypti dalam menekan membiaknya virus dengue. Lalu apakah Wolbachia yang terdapat pada nyamuk Ae. aegypti yang telah dilepas masih mempunyai kemampuan yang sama dengan ketika ia belum dilepas?

Baca juga: Wolbachia, Teknologi Menjanjikan Kendalikan DBD

Sejak pertengahan Juni yang lalu, EDP Yogya melakukan uji ini terhadap nyamuk ber-Wolbachia yang telah lama hidup di habitat alaminya. “Kami mencoba membandingkan jumlah virus dengue pada nyamuk ber-Wolbachia dengan nyamuk yang tidak ber-Wolbachia,” jelas Endah Supriyati, salah seorang staf EDP Yogya yang terlibat dalam uji ini. Sampel nyamuk ber-Wolbachia diambil dari wilayah pelepasan di Dusun Jomblangan dan Singosaren, Bantul. Sedangkan nyamuk yang tidak ber-Wolbachia diambil dari Desa Kalitirto, Sleman yang merupakan wilayah kontrol penelitian EDP Yogya yang tidak dilepasi nyamuk ber-Wolbachia. Sampel nyamuk-nyamuk tersebut dibandingkan juga dengan kemampuan Wolbachia pada Ae. aegypti ber-Wolbachia yang selama ini tetap dipelihara di laboratorium.

Ket. gambar: Staf EDP Yogya mengamati sampel nyamuk pada uji vector competence

Untuk melaksanakan uji ini EDP Yogya menggunakan virus dengue yang diperoleh dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. “nyamuk-nyamuk (ber-Wolbachia dan tidak ber-Wolbachia) tadi akan diberi makan darah yang dicampur dengan virus dengue yang kita dapat dari Lembaga Eijkman,” jelas dr. Edwin Widyanto Daniwijaya, Koordinator Laboratorium Diagnostik EDP Yogya. Ia dan lima staf lain yang beraktivitas di laboratorium inilah yang bertugas memeriksa kandungan Wolbachia pada sampel nyamuk yang rutin diambil sehingga diperoleh persentase Wolbachia di wilayah penelitian EDP Yogya.

Uji vector competence ini akan berlangsung selama 21 hari. Nyamuk-nyamuk yang menjadi subjek penelitian ini dipantau secara rutin dan diambil sampel pada hari ke-7, 14 dan 21. “Kita akan amati keberadaan dan jumlah virus Dengue di dalam tubuh nyamuk pada usia-usia tersebut,” jelas dr. Edwin. Pemerikasaan jumlah virus Dengue pada tubuh nyamuk tersebut akan dilakukan dengan menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR).