Insektarium EDP Yogya Hasilkan 300.000 Telur Nyamuk Tiap Pekan

EDP Yogya - Puluhan sepeda motor terparkir rapi di halaman yang tak terlalu luas itu. Rimbun suasananya bukan hanya karena atap kanopi yang menaungi, namun ada sebatang pohon ketapang kokoh berdiri. Bangunan yang terletak di bilangan Perumahan Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) itu sepintas sama dengan beberapa bangunan di sekitarnya yang digunakan sebagai pusat studi. Namun siapa sangka, bangunan bercat putih di Jalan Podocarpus N-14 dengan papan bertuliskan Kantor Penelitian Eliminate Dengue Project Yogyakarta ini adalah tempat pengembangbiakan ribuan ekor nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia.

Sebagian besar kegiatan EDP Yogya dilakukan di bangunan berlantai dua ini. Memasuki pintu utama, terpampang kanvas berpigura di sisi kanan bertulis pesan dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Ia mengunjungi tempat yang berfungsi sebagai insektarium ini tahun lalu, tepatnya pada Bulan Februari 2017. Sedangkan di sisi kiri pintu utama terdapat satu kanvas berisi tanda tangan dan kesan dari tokoh-tokoh lain yang pernah berkunjung, seperti Melinda Gates dan Sue Desmond Hillman (Bill and Melinda Gates Foundation) serta John C Reeder (Direktur WHO/TDR).

Ruang pertama di sisi kiri bertulis Field Entomology Laboratory (FE Lab). Di dalamnya terdapat dua meja dengan tiga buah mikroskop di atasnya. Tiga staf yang beraktivitas di ruang ini bertugas mengidentifikasi sampel nyamuk yang didapat dari wilayah penelitian. “Di sini kami pisahkan nyamuk berdasar jenisnya, juga jenis kelaminnya,” jelas Iva Fitriana, Koordinator FE Lab, EDP Yogya. Ia menjelaskan sampel nyamuk itu didapat dari 374 alat yang dipasang di seluruh Kota Yogyakarta dan sebagian Kabupaten Bantul. Tiap sampel kemudian diberi label khusus menggunakan barcode untuk memudahkan dalam pencarian sampel. Berikutnya sampel dikirim ke laboratorium Diagnostic Unit di Gedung Radio Putro untuk diperiksa kandungan Wolbachianya.

Ket. gambar: Staf EDP Yogya menyiapkan telur nyamuk yang akan dititipkan kepada warga.

Ruang lain di insektarium EDP Yogya bertuliskan Mosquito Rearing Unit (MRU). Di dalamnya terdapat beberapa ruang untuk berbagai aktivitas seperti memberi makan nyamuk, memanen telur nyamuk, memisahkan jentik jantan dan betina, dan lain-lain. Setiap Kamis akan terlihat beberapa staf EDP Yogya yang memberi makan nyamuk, berjajar di sepanjang koridor ruangan. “Kalau bersamaan, ada sekitar 15 staf yang bloodfeeding (memberi makan nyamuk),” jelas Indah Nurhayati, Koordinator MRU. Tiap staf memberi makan 2-4 kandang nyamuk yang masing-masing berisi sekitar 600 ekor nyamuk. Tiap kandang bisa menghasilkan 18 ribu telur nyamuk sekali panen. Indah dan dua rekannya selama ini berhasil memenuhi kebutuhan lebih dari 300.000 telur nyamuk perpekan selama periode penitipan ember telur nyamuk ber-Wolbachia di Yogyakarta.

Ruang berikutnya bertulis Field Entomology menjadi tempat berkumpulnya puluhan staf lapangan EDP Yogya. Diskusi teknis seputar aktivitas lapangan acap terdengar dari ruang ini. Papan bertulis pembagian tugas senantiasa diperbarui setiap saat. Berbagai dokumen administrasi tersimpan rapi di rak penyimpanan. Sedangkan dokumen berisi data tidak terlalu banyak berkat penggunaan aplikasi Open Data Kit. Setiap staf yang bertugas di lapangan dibekali ponsel pintar untuk menyimpan data tersebut.

Ket. gambar: Suasana ruang staf lapangan EDP Yogya

Data yang didapatkan oleh staf lapangan kemudian diproses oleh Data Management Unit (DMU) yang beraktivitas di lantai dua. DMU mengolah data mentah dari lapangan menjadi grafik dan tampilan yang mudah dibaca dan dianalisa. Unit ini pula yang membuat peta yang sangat berguna untuk menemukan dan menyimpan data lokasi penitipan ember dan berbagai alat survey yang digunakan EDP Yogya.

Dari insektarium inilah telur nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dititipkan dan dikembangbiakkan oleh warga di setidaknya 40 persen wilayah Kota Yogyakarta. Beberapa wilayah di Kabupaten Sleman dan Bantul telah terlebih dahulu menjadi wilayah pelepasan nyamuk yang diharapkan dapat mengurangi menyebarnya virus penyebab DBD ini.


 Baca juga:

Kurangi Penggunaan Kertas, EDP Yogya Gunakan Aplikasi Digital untuk Studi Epidemiologi

Libur Tahun Baru, Peletakan Telur Tidak Libur