Tim Analisis Risiko: Risiko Penelitian EDP Yogya Sangat Rendah

EDP Yogya menerima amanat dari para pemangku kepentingan nasional pada pertemuan yang dihelat 12 Februari 2016. Amanat tersebut mengisyaratkan perlunya diadakan Kajian Risiko (risk assessment) terhadap Pelepasan Nyamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia. Amanat ini sejalan dengan rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) Vector Control Advisory Group (VCAG) untuk memegang prinsip kehati-hatian dalam penelitian. Kajian risiko ini bertujuan untuk mengidentifikasi implikasi yang tidak diinginkan terhadap keselamatan manusia dan lingkungan yang mungkin dapat terjadi akibat pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dalam periode 30 tahun ke depan.

Peneliti utama EDP Yogya, Prof. Adi Utarini, mengatakan bahwa kajian risiko difasilitasi oleh Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Ditjen Risbang, Kemenristekdikti) bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Balitbangkes, Kemenkes). “Dua lembaga ini membentuk tim pakar beranggotakan lima guru besar dari beberapa perguruan tinggi yang memiliki keahlian di bidang entomologi medis, biologi evolusi, dan dokter,” jelas Prof. Uut, panggilan akrabnya.

Tim pakar kemudian merekrut tim besar untuk mendiskusikan bahaya-bahaya yang mungkin terjadi dalam kelompok yang dibentuk berdasarkan empat komponen, yaitu: (1) efek negatif terhadap ekologi, (2) penurunan efikasi  pengendalian nyamuk, (3)  standar kesehatan masyarakat menjadi buruk, dan (4) pengaruh negatif terhadap keadaan sosial budaya dan ekonomi masyarakat. Untuk memperkaya pertimbangan, tim mengunjungi berbagai fasilitas EDP Yogya seperti insektarium, laboratorium diagnostik hingga berdialog dengan masyarakat di wilayah penelitian.

Ket. gambar: Tim pakar mengunjungi insektarium EDP Yogya

Setelah melalui rangkaian lokakarya dan serial diskusi, tim pakar sampai pada hasilnya. Tim pakar menyimpulkan bahwa dalam 30 tahun ke depan, peluang peningkatan bahaya (cause more harm) akibat pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia dapat diabaikan (negligible risk). “Terdapat lima tingkatan risiko,” beber Prof. Uut. Kelima konsekuensi risiko tersebut adalah: sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Mengacu pada kelima tingkatan tersebut, maka konsekuensi risiko pelepasan nyamuk Ae. aegypti ber-Wolbachia adalah sangat rendah.

Ringkasan eksekutif dan laporan akhir dari hasil kajian analisis risiko penelitian yang dilakukan EDP Yogya tersebut dapat diunduh di situs kami. Harapannya, dokumen tersebut dapat digunakan oleh peneliti dan para pemangku kepentingan sebagai acuan dalam menjaga prinsip kehati-hatian dalam penelitian.


Baca juga:

WHO: Nyamuk Berwolbachia Teknologi Masa Depan

Wakil Gubernur DIY Dukung EDP-Yogya