Andil Sapa Aruh Terhadap Persetujuan Warga Jomblangan

Penelitian WMP Yogyakarta bermuara pada pelepasan Wolbachia baik melalui pelepasan nyamuk dewasa maupun penitipan telur nyamuk di tengah komunitas masyarakat. Sementara mindset yang terbangun di masyarakat adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan atau ditularkan oleh nyamuk. Maka menjadi tantangan besar bagi WMP Yogyakarta untuk mensosialisasikan penelitian hingga memperoleh persetujuan dari masyarakat sebagai prasyarat pelepasan Wolbachia.

Jumat (2/2) pagi, WMP Yogyakarta berkesempatan menjumpai Kepala Desa Banguntapan Kabupaten Bantul, Basyirudin. Sebelum menjabat sebagai kepala desa, ia menduduki jabatan sebagai Kepala Dusun Jomblangan, salah satu wilayah penelitian WMP Yogyakarta di Kabupaten Bantul. Pria yang akrab disapa Jarot ini merupakan saksi proses pengenalan metode Wolbachia yang digunakan oleh WMP Yogyakarta (atau yang dahulu dikenal sebagai EDP Yogya) pada saat penitipan telur nyamuk pada akhir 2014, hingga akhirnya memperoleh persetujuan warga. Berikut percakapan di Kantor Kepala Desa Banguntapan pagi itu:

Ket. gambar: Staf WMP Yogyakarta bersilaturahmi dengan Kepala Desa Banguntapan

WMP Yogyakarta  : Apa pendapat Pak Jarot tentang penelitian EDP Yogya di Jomblangan?

Jarot             : Saya menangkap penelitian ini bisa dipertanggungjawabkan dan di masyarakat ada dampaknya. Penelitian tidak hanya di analisa tapi dampaknya bagus di lapangan.

WMP Yogyakarta  : Apa dampak yang Pak Jarot amati?

Jarot             : Dampaknya terutama di bidang kesehatan. Khususnya dirasakan kader-kader. Dengan adanya EDP, warga yang biasanya tidak pernah membersihkan bak mandinya sekarang mau membersihkan. Dan kami tergugah untuk hidup sehat.

WMP Yogyakarta   : Hal apa yang kami lakukan yang menurut Pak Jarot menyebabkan perubahan itu?

Jarot              : Dalam pelayanan, dalam hal ini saya akui nilainya bagus. Di Jawa itukan sopan santun masih berjalan, jadi kalau tenaga EDP ke lapangan itu pasti Sapa Aruh. Ini kan hampir punah. Itu perlu digalakkan. Sapa Aruh itu “selamat pagi”, “assalamualaikum”, “monggo”, itu adalah nilai plus. Di sini (Jomblangan) itu masih berlaku dan itu harus dikembangkan. Kalau ada yang complain kepada mbak Usna (staf EDP Yogya), tim EDPlangsung datang. Itu real.

WMP Yogyakarta   : Komunikasi seperti apa yang Pak Jarot sarankan ketika kami memperkenalkan penelitian ke masyarakat (wilayah baru)?

Jarot              : Mungkin hampir sama ketika EDP masuk ke Banguntapan, di pedukuhan Jomblangan, lewat Pak Lurah, lewat kami (dukuh pada waktu itu), tatap muka.

WMP Yogyakarta  : Terkait persetujuan warga, kalau menurut Pak Jarot model terbaik untuk jenis penelitian seperti EDP Yogya ini bagaimana?

Jarot              : Lebih pas itu memang individu, tapi apakah waktunya mencukupi ? Biasanya di wilayah itu kan satu komando, lewat pak RT. Kalau ada pertemuan pak RT akan mensosialisasikan ke masyarakat. Kalau ada yang bergejolak, berapa persen yang tidak setuju ditindaklanjuti dengan turun ke masyarakat langsung. Tapi perlakuan yang di Jomblangan bagi saya sudah sukses. Itu sudah maksimal.

 

Persetujuan secara komunal yang diberikan warga Dusun Jomblangan pada 2014 terkait penitipan ember berisi telur nyamuk Wolbachia tersebut, diwakili oleh 10 Ketua RT yang menjadi wilayah penelitian. Melalui kesaksian dari Basyirudin, diperoleh kesimpulan bahwa selain metode sosialisasi yang tepat, sikap staf lapangan yang menyapa dan terbuka terhadap warga juga berpengaruh terhadap penilaian warga. Hal inilah yang memberi andil besar terhadap persetujuan warga untuk menerima dan berpartisipasi dalam penelitian WMP Yogyakarta.