Bersama Yayasan Tahija, EDP Yogya Datangkan Nyamuk ke Bali

“Eh, apa itu? Nyamuk ya itu?” tanya salah seorang panitia event Bali Ophtalmology International Review (BIOR) 2018 dengan logat Bali yang khas. Ya, nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia menjadi salah satu pusat perhatian dalam event dwi tahunan yang dihadiri oleh para ahli mata dari dalam dan luar negeri. Yayasan Tahija mendapat kehormatan sebagai salah satu penyelenggara dari acara tersebut. Berlangsung sejak 2 – 4 Maret 2018, BIOR 2018 menempati lokasi di ruang Ayana Ballroom, Ayana Resort and Spa, Jimbaran-Bali. EDP Yogya hadir dalam perannya sebagai lembaga yang didanai oleh Yayasan Tahija.

Staf Media dan Komunikasi EDP Yogya, Equatori Prabowo, mengatakan bahwa EDP Yogya kembali diundang untuk menampilkan proyek penelitian di salah satu dari 14 booth pameran yang disediakan panitia. “Ini kali kedua EDP Yogya mewakili Yayasan Tahija pada acara BIOR 2018, dan akan menampilkan sesuatu yang berbeda dari acara tahun 2016 yang lalu,” ujar Equatori. Pada tahun ini, EDP Yogya memamerkan nyamuk ber-Wolbachia yang mempunyai kemampuan untuk mengurangi penularan virus Dengue ke manusia. Selain sebagai display, turut diadakan lomba menghitung nyamuk bagi peserta yang datang ke booth. “Kita juga siapkan lomba selfie menggunakan kostum Wolly (maskot EDP Yogya) untuk menambah semarak acara tersebut,” tambahnya.

Tak kurang dari 100 orang mengunjungi booth EDP Yogya selama tiga hari. Mulai dari ahli dan dokter mata selaku peserta BIOR 2018, exhibitor booth, hingga petugas resort yang lalu lalang karena penasaran dengan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. Setelah melihat nyamuk dan mendapatkan informasi penelitian dari staf yang bertugas di booth, salah satu exhibitor sekaligus pemilik perusahaan alat medis untuk mata, Rusminto, mengatakan penelitian yang dilakukan EDP Yogya sangat bagus. Pria berkacamata tersebut juga mengapresiasi Yayasan Tahija yang terus mendanai penelitian hingga saat ini. “Yayasan Tahija keren, konsisten sekali untuk mendanai kegiatan penelitian ini,” ujarnya. Ia pun berharap pada akhir 2019 nanti ada hasil yang baik dari penelitian EDP Yogya. “Semoga nanti metode (Wolbachia) ini bisa diaplikasikan ke seluruh wilayah di Indonesia,” sambungnya.

Ket. gambar: Staf EDP Yogya menunjukkan pupa kepada pengunjung booth EDP Yogya di BIOR 2018.

Selain membuka booth, peneliti EDP Global, Dr. Peter Ryan, turut menjadi pembicara pada acara tersebut. Dr. Peter memberikan update penelitian metode Wolbachia di Yogyakarta yang merupakan bagian dari 12 negara yang tergabung dalam World Mosquito Program (WMP), yaitu, Indonesia, Australia, Vietnam, Kolombia, Brazil, Fiji, Kiribati, Vanuatu, Sri Lanka, India, New Macedonia, dan Meksiko.


 Baca juga:

Sempat Salah kaprah, Warga Justru Yakin dengan Wolbachia

"Apakah Nyamuknya Jadi Bertambah Banyak?"