Tanya Jawab

1. Kapan penelitian EDP-Yogya dilaksanakan di Bantul dan Sleman?

EDP-Yogya memulai fase persiapan di Bantul dan Sleman sejak tahun 2011. Pada tahun 2014, EDP-Yogya melakukan pelepasan terbatas nyamuk ber-Wolbachia di Sleman. Pelepasan menggunakan nyamuk dewasa ini dilakukan di dua wilayah penelitian, yaitu Dusun Karangtengah dan Ponowaren, Desa Nogotirto dan Dusun Kronggahan 1 dan Kronggahan 2, Desa Trihanggo. Pada tahun 2015, EDP-Yogya kembali melakukan pelepasan terbatas di Bantul. Pelepasan menggunakan telur nyamuk ber-Wolbachia ini dilakukan di dua wilayah penelitian, yaitu Dusun Jomblangan, Desa Banguntapan dan Dusun Singosaren 3, Desa Singosaren.

 

2. Siapakah Eliminate Dengue Indonesia?

Eliminate Dengue Indonesia adalah penelitian bersama antara Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yayasan Tahija, Indonesia dan Monash University, Melbourne, Australia. Eliminate Dengue Indonesia didirikan pada September 2011 bertujuan demi mengembangkan dan menguji metode Wolbachiauntuk mengurangi penularan virus demam berdarah di Indonesia.

3. Kegiatan apa yang sedang dijalankan di Indonesia dan di mana?

EDP sedang melaksanakan penelitian di dua tempat di Kabupaten Sleman, yaitu Kronggahan dan Nogotirto. Kegiatan ini mendapat dukungan sebagian besar masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangbiakkan Wolbachia pada nyamuk setempat dimana harapannya akan mampu mengurangi penularan demam berdarah.

Kami juga terus memonitor perkembangan nyamuk di wilayah lain di Kabupaten Sleman dan Bantul. Monitoring ini bertujuan untuk menghitung populasi nyamuk di lokasi tersebut. Kami telah bermusyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat baik di tingkat kabupaten, kecamatan, desa maupun dusun untuk mendapat dukungan bilamana kedepannya, penelitian ini juga dilakukan di wilayah mereka.

4. Mengapa Kabupaten Bantul dan Sleman dan Kota Yogyakarta dipilih sebagai daerah untuk penelitian?

Penentuan tempat penelitian didasarkan pada kondisi geografis, populasi nyamuk dan penerimaan masyarakat bukan pada batas-batas administratif.

Semua wilayah yang dipertimbangkan untuk penelitian adalah daerah endemis demam berdarah. Daerah-daerah tersebut merupakan wilayah pemukiman yang baik luas wilayah maupun kondisi geografisnya memungkinkan kami melakukan pelepasan nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia. Wilayah-wilayah ini biasanya dihuni antara 700-1200 kepala keluarga yang secara fisik terpisah dari pemukiman lainnya baik oleh jalan, hutan atau lahan pertanian.

5. Apakah EDP telah mendapatkan persetujuan pemerintah untuk melakukan penelitian di Yogyakarta?

Setelah konsultasi yang panjang, kami menerima persetujuan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta untuk melakukan penelitian di Yogyakarta. Kami juga telah mendapat surat kelaikan etik dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, satu dari empat badan pertimbangan etik yang mendapat akreditasi internasional di Indonesia.

6. Apa yang sedang dan akan dilakukan EDP-Yogya di Kota Yogyakarta?

EDP-Yogya sedang melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan dengan persetujuan pemerintah dan masyarakat. Kami sudah mendapatkan ijin dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kota Yogyakarta dan Komisi Etik Fakultas Kedokteran UGM. Kami akan bertemu sebanyak mungkin masyarakat untuk mendengar dan menjawab pertanyaan terkait penelitian in. Mulai pertengahan 2016, kami penyebaran nyamuk ber-Wolbachia dengan menitipkan telur di rumah penduduk yang terpilih dan bersedia.

7. Bagaimana masyarakat berpartisipasi dalam penelitian?

Kami mengharapkan partisipasi masyarakat untuk menjadi orangtua asuh ember telur nyamuk pada rumah yang terpilih. Hal ini untuk membuktikan bahwa pendekatan ini mampu menurunkan kasus DBD di Kota Yogyakarta.